Arie Fajar Rofian

Maaf, bukan nyampah tapi ini urgent. Tadi saya kan promo buku di sini, terus postingannya hilang. Saya pikir ada pelanggaran yang membuat postingan saya terhapus. Ternyata eh ternyata tiba-tiba postingan saya ada di blog orang. Freak banget kan. Adakah teman-teman kobimo yang mengalami hal serupa. Saya jadi was-was nih. Tolong dibantu yah.

Related Posts:

Arie Fajar Rofian

Halo kawan-kawan Kobimo. Daripada besok liburan bengong melompong kayak sapi ompong, mending baca novel yang fresh from the oven, judulnya 'Everybody's Man' terbitan elex media. R-I-A-N Empat huruf, satu raga. Enam cerita, satu jiwa. Perempuan punya cara masing-masing dalam bercerita tentang cinta. Manis, getir, harap, juga bencana. Mana yang benar-benar Rian cinta? Ceritanya tentang lima perempuan yang mencintai satu laki-laki. Nah lho, bingung kan? Ya daripada penasaran, langsung aja ke toko buku. "Saya suka bagaimana Arie meramu enam sudut pandang dalam kisah romance yang menarik ini. Bahasanya indah. Kalimatnya lincah dan menarik untuk diikuti. Sebuah pengalaman yang menarik dalam beragam rangkaian cerita cinta. Betapa cinta memang tak mengenal logika, membutakan mereka yang sedang dimabuk cinta." —Dyah Rinni, penulis Beautiful Liar "Ini novel kereeen! Penulisnya hebat. Nyesel kalau nggak baca. Wajib untuk dibaca." —Mpok Mercy Sitanggang, pekerja televisi dan penulis novel Laura

Related Posts:

Assifa Wildan Wijayani

Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia Mengingatkan saja. Kami dari Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia (KMSI) mengharapkan kehadiran rekan2 dalam Rangka Memperingati Hari Puisi Nasional Mempersembahkan: MELUPAKAN CHAIRIL ANWAR? Selasa, 28 April 2015 Pukul 12.00 s.d. selesai Lokasi, Crop Circle FIB Universitas Diponegoro -Stand Makan dan Minum: Honey Moo, Freshasan, Kedai Surti, dan Wasabi -Stand Buku: Gramedia Dimeriahkan oleh: SINEAS AKSARA SASTRO SEWELAS UNNES DEJAVU EMKA WMS CARESEN EFEK RUMAH MAKAN KESENIAN GAMBANG SEMARANG PEMBLUSUKAN KANG PUTU DJAWAHIR MUHAMMAD TIMUR SINAR SUPRABANA LATRI MANOHARA LACIKATA SEMBARANG STAND UP COMEDY Dan masih banyak lagi pengisi acara keren lainnya!!! GRATIS!!!!! Datang dan ramaikan yaaaaa! Ajakin teman2 kamu,, Ingat tanggal dan waktunya!!!

Related Posts:

Hadi Kurniawan

Numpang promo kak Hengki Kumayandi. Mau memperkenalkan Long Distance RelationSICK, sebuah novel tentang komedi cinta yang ngenes. Juga Keluarga Salah Gaul, yang mengisahkan tentang Nikita Willy KW yang kece. Karena dua novel ini sama sama coming soon, dan sama sama akan segera lahir. Saya dan kekasih jauh saya Vivie HardiKa Cungkring berniat untuk mengadakan PO dengan penawaran begini: Jika memesan sepaket sebelum 10 Mei, akan kami hadiahi Boneka Teddy yang lucu. Apa? Mau beli satuan? Boleh. Silakan inboks kami. Ya udah, gitu aja. :v Salam :*

Related Posts:

Sinshin Er

"Kerja keraslah sama apa yang kamu cintai. Bersama sahabat-sahabatmu, lintasi cakrawala dunia ini karena kita hanya hidup sekali dan di kehidupan mendatang, belum tentu akan seindah ini." #IramaPersahabatan 40K, belum termasuk ongkir. Hub: 085771860444 http://ift.tt/1OmwYpS Khusus Sidoarjo, Buduran, dan sekitarnya langsung hubungi aku 08993886286. Tanpa ongkir. (Masih tersisa 4 buku) Atau beli e-booknya seharga 30k melalui aplikasi SCOOP. Scoop bisa instal melalui Apps Store, Google Play, atau Windows Store http://ift.tt/1DtiA4W

Related Posts:

Kamal Agusta

"Kathalina ... dengarkan aku. Kau harus tahu bahwa orang dewasa tidak pernah lari dari masalahnya." Kathalina mengangguk kecil. "Aku tahu." "Lalu kenapa kau tidak ingin bertemu Andreana?" "Aku hanya takut kalau kami bertemu, ia masih marah dan kami akan bertengkar hebat lagi." "Kau masih bisa menghindari pertengkaran itu kalau kau mau. Ingat, yang kau hindari pertengkarannya, bukan orangnya." Kathalina dan Daniele di novel SELALU DENGANMU (Hal. 150) Guys ... yuk beli novel terbaruku ini. Harganya Rp 38.000,- saja. :)

Related Posts:

Alfano Deva

Assalamualaikum W.W. Sebelumnya saya minta maaf sebesar-besarnya karena dari minggu kemarin saya tidak terlalu aktif di Fb. Karena itulah saya ingin menyampaikan pada KOBIMO ini, untuk meminta maaf karena kelas BEDAH BECEKI untuk diliburkan dahulu yang tidak bisa ditentukan kapan BECEKI dibuka lagi kelasnya.InsyaAllah jika tidak ada halangan pekerjaan lagi saya akan kembali muncul di sini. Hehehehe ... makasih ya kalian hebat semua. Dan saya tetap memberikan sebuah novel kepada 1. Pandir Kelana 2. Lisma Laurel 3. Noorzha Lee 3. Aris Rahman Yusuf 4. Ulya Fathiya 5. Ayda Hanafi 6. Ema Ied Fitriyah 7. Ratna Hana Matsura 8. Dini Chan Selamat ya untuk kalian semua, insyaAllah kamu akan mendapatkan novel dari saya yang akan kupilih dari novel mas Redy 'Ugeng' Kuswanto, terserah pengen judulnya yang mana. Mas Redy punya dua judul novel. Dan nanti alamatmu inbok ya ke mas redy, biar nanti saya transfer. Siiiip .... makasih semua yaaaaa. Wassalaaaaaaam. Muach!

Related Posts:

Koko Ferdie

KAMIS MANIS *hihi* Sudah ada yang punya Jika Cinta Dia atau Membagi Rindu? Atau sudah punya dua-duanya? :p Kalau belum ayo disapa lalu dibawa ke kasir. ;) Hehe. Ramah di kantong kok, JCD cuma 35.000, MR 38.000 :p Tentang Jika Cinta Dia. http://ift.tt/1EeXafJ Tentang Membagi Rindu. http://ift.tt/1OIHyTb Cuplikan dari Membagi Rindu. http://ift.tt/1OIHz9r Foto 1 dari Amelia Meranti, Gramedia Kediri Foto 2 Gramedia Malang ^^

Related Posts:

Kamal Agusta

SELAMAT HARI BUKU ... Buat teman-teman yang hari ini berencana main ke Gramedia, gak ada salahnya nih bawa pulang novel terbaruku, SELALU DENGANMU. Semoga setelah baca ini kamu makin yakin dengan impianmu. "Yang kau butuhkan saat ini hanya dua--percaya pada impianmu dan semangat untuk terus berusaha meraihnya." Daniele di Selalu Denganmu

Related Posts:

WN Rahman

Sampai kemarin pun rasa-rasanya masih ada yang bertanya soal apa yang dibutuhkan untuk menulis? Dan seperti biasa, jawabannya adalah bolpoin, kertas, dsb. Tidak sepenuhnya salah sih, tapi sepertinya juga tidak benar--err, begitulah .... :p Sedangkan menurut saya, hal pertama yang dibutuhkan penulis adalah kemampuan membaca. Kemampuan membaca ini, jujur saja, saya rasa tak dimiliki semua orang. Bukan. Bukan masalah buta atau melek huruf. Tetapi, masalah memahami teks. Pernahkah kita bertanya, apa arti kata ini atau mengapa susunan kalimatnya seperti itu? Televisi masih menyala, asal cahaya terang-redup di ruangan yang kian gelap. Komedi lawas hitam-putih tentang pesta makan malam yang meriah tengah ditayangkan. - Under the Deep Shadows Jika dicermati, paragraf di atas tidak hanya berisikan sekadar dua deskripsi saja. Menurut saya, cara mencermatinya adalah sebagai berikut: 1. Kata 'televisi' dan 'gelap'. Seperti yang saya ketahui menonton televisi baiknya tidak di tempat gelap. 2. Kata 'televisi', 'gelap', dan 'kian'. Artinya siapa saja yang menonton, memulainya dari ketika ruangan tidak (begitu) gelap sampai gelap. Ada petunjuk waktu, juga, mungkin, perangai tokoh. Ia tak pindah dari muka televisi, artinya ia abai. Bisa jadi sedih, dari pengumpamaan 'gelap'. Seperti apa kiranya orang yang suka tempat gelap? 3. Kesimpulan sedih tadi diperkuat kata 'komedi'. Penonton komedi sedikit banyak pasti butuh penghiburan. Lalu diperkuat kata 'lawas'. Kita bisa menduga seperti apa kiranya tokoh itu. Ada dua kemungkinan, (1) tua, rindu masa lalu, kesepian, atau (2) muda, bosan setengah mati, kesepian. Mungkin juga melibatkan kegiatan melamun. Nah, dua kalimat saja jika digarap baik bisa menimbulkan banyak kesan selain menggambarkan suasana semata. Membaca dengan cara demikian memang merepotkan, tapi sekaligus bisa dipakai untuk mengukur teknik menulis seseorang. Selamat membaca.

Related Posts:

Kiroro Tasuke

[IKLAN KELAS] Selamat pagi kobimoist yang makin keren. Jangan lewatkan kelas bedah novel nanti malam, ya. Seperti biasa kelas akan dimulai pukul 19.00 sampai 21.00 (jam bisa berubah sewaktu-waktu :D ) akan ada saya dan juga partner saya, Kak Ragiel Jepe. Tentunya tak ketinggalan juga dong narasumber yang selalu keren setiap harinya, Om Redy 'Ugeng' Kuswanto. Oya, akan ada 2 eksemplar novel gratis yang akan dibagikan bagi 2 penanya yang paling aktif. So, keep waiting :*

Related Posts:

Hengki Kumayandi

| Sebagian penulis, ada yang menghabiskan waktunya untuk menulis pada jam segini. Di saat malam memberi keheningan untuk dapat berkonsentrasi penuh. Ya, begitulah. Tak ada yang lebih ampuh untuk meningkatkan kemampuan dalam bercerita selain aksi menulis itu sendiri. Selamat menulis untuk kobimoist yang saat ini tengah merangkai cerita, atau tengah mencari ide-ide briliant-nya untuk segera dituliskan. :D

Related Posts:

Silvi Lutfiah

butuh tiket pesawat, tiket kereta api?? atau voucher hotel dengan harga murah? ? » cuma ada di WRS tour & travel harga tiket lebih murah drpd di web maskapai.. dijamin murah dan terpercaya tidak hanya itu, kami juga menyediakan jasa pembayaran tagihan / cicilan listrik prabayar dan pasca bayar, PDAM, telkon speedy, BAF, FIF, WOM dan masih banyak lagi. tentunya sangat terpercaya dan resmi loh... eitzz... masih ada lagi nih fasilitas yg disediakan buat kalian semua.. tersedia juga pulsa elektrik dan voucher listrik loh.. .... Upzzz tenang aja, kami jug menyediakan beragam pakaian anak2 cewe&cowo usia 1-10thn, gamis/koko dewasa dan anak2, daster dan baju tidur, mukena bali, set tas 3in1.. dan aneka fashion lain.a bisa di ecer dan grosir loh... harga dijamin murah!! buat yg mau nambah penghasilan... tentu bisa jadi reseller kami, syarat sangat mudah. » untuk reseller baju murah cukup order pertama kali min.6pcs selanjutny bisa satuan ya.. atau mau ambil paket?? tebtu bisa.. harga lebih murah.. » gaberbakat jualan baju?? tenang... kami membuka peluang usaha di bidang travel dan pulsa.. kalian bisa menjadi distributor pulsa sekaligus menjual tiket pesawat dan KA hanya dgn 1 sistem saja loh.. dijamin keuntungan g di dapatkan lumayaaaaan buingitzzz loh utk tanbah2 pendapatan.. mau info detailnya?? yuk cusss invite 74b00009 atau CALL 0857 8236 0404 atau bisa langsung datang ke rumah usaha kami. di Jl. Galunggung VII blok d12 rt.5/10 no.5 cengkareng.. kepuasan anda adl moto utama kami "" salam sukses""Suka ""Komentari ""Bagikan

Related Posts:

Dzikra Muhariq

Sejahterakan anda dengan sedekah sedekah akan membawa kita kepada kesejahteraan secara kasat mata ketika kita bersedekah, berkuranglah harta kita namun ketika kita melihatnya dengan kaca mata iman maka di sana terdapat berbagai macam keutamaan keutamaan yang mampu mensejahterakan hidup kita keutamaan yang mampu menjadi tolak bala keutamaan yang mampu mendekatkan jodoh anda dan segunang keutamaan yang lainnya yuk bersedekahlah di Taman Sedekah bandung untuk Raudhoh Yatim Dan Dhuafa. Y.a.b. Binaan Hadzlul Azzam Dan Astri Sulastri SALURKAN SEDEKAH ANDA di " TAMAN SEDEKAH YATIM DHUAFA. y.a.b. BANDUNG. NO. REK. 0747-01-009271-53-7 BANK BRI. ATAS NAMA ASTRI SULASTRI. by Dzikra Muhariq

Related Posts:

Abdul Koharuddin

DONGENG KUNO Inilah dongeng kuno tentang seseorang yang sedang sakit lalu didatangi Izrail pencabut nyawa. Orang itu bertanya, "Apakah kedatanganmu sebagai kunjungan biasa atau untuk mencabut nyawaku ?" Izrail menjawab, "Kunjungan biasa." Orang itu berkata lagi, "Demi persahabatan kita, jika dekat ajalku nanti, kirimlah satu utusan untuk memberitahuku." Izrail menyetujui permintaan tersebut. Pada suatu hari Izrail datang untuk mencabut nyawanya. Orang itu berkata, "Bukankah belum pernah ada utusanmu yang datang kepadaku untuk membetitahukan perkara ini ?" Izrail menjawab, "Sudah...sudah pernah datang bahkan beberapa kali. Seseorang itu menjawab heran, "Setahuku, satu pun belum pernah datang utusanmu padaku." "Sudah sahabatku. Sudah...bahkan beberapa utusan. Bukankah tulang punggungmu bungkuk padahal sebelumnya lurus ? Bukankah rambutmu memutih padahal sebelumnya hitam ? Bukankah suaramu mulai gemetar padahal sebelumnya lantang ? Bahkan akhir-alhir ini kamu lemah padahal dahulunya kamu kuat perkasa. Penglihatanmu sudah mulai kabur padahal dahulunya terang. Dahulu kamu penuh harapan tetapi akhir-akhir ini sering keluh kesah. Aku telah mengirim banyak utusan kepadamu padahal kamu hanya meminta satu utusan. Oleh karena itu kamu, janganlah menyalahkan aku." Seseorang itu pun tidak bisa berbicara lagi mendengar jawaban Izrail. by Abdul Koharuddin

Related Posts:

Joeyi

Selamat Pagi... ini kali keberapa, tak pernah ku coba menghitung. ini mungkin kali ke (n) aku kembali meneguk secangkir kopi, diantara sakit ku dan tumpukan kertas saksi bisu, yang tetap tak mampu berkata-kata... by Joeyi

Related Posts:

Gis

Apa gerimis itu masih buatmu menangis.. Atau sudah basahi hatimu tuk optimis.. Andai menangis sudahilah jangan sampai terkikis.. Andai optimis pertahankan sampai semua terasa manis.. Apa badai hatimu masih menerjang.. Atau sudah enyah menghilang.. Andai menerjang tetaplah setegar karang.. Andai menghilang tunggulah pelangi kan lekas datang.. Ini bukan gurindam.. Hanya bisik peredam.. Untuk jiwa yg mendendam.. Biar enyah terpendam.. Gis : Bisik Peredam by Gis

Related Posts:

Imel Rohimah

Alhamdulillah karyaku masuk koran AYAH Oleh: Imel Rohimah Kutatap lekat wajah tuamu Tak kuasa kumenahan airmata yang mengalir Kau begitu lemah Tak seperti masa mudamu yang begitu gagah Kerutan di wajahmu membuatmu lusuh Tak seperti masa mudamu yang begitu tampan Kau tampak tak berdaya, tak seperti saat kau kuat Yang mampu mengayuh sepeda ontel tuamu Demi mencari nafkah untuk kami anak-anakmu Ayah maafkan dan ampuni anakmu ini Yang bak anak durhaka terkadang marah bahkan membentak Terkadang pelit dan tak ikhlas dalam memberi Dan melakukan sesuatu untukmu Terima kasih atas tetesan airmata Yang berderai menahan kesedihan dan rasa malu Karena penderitaan dan pandangan jelek orang lain Pada kita yang miskin Terima kasih atas butiran keringat yang kau kucurkan Demi memberi makan kami agar tak kelaparan Walau kau dan ibu harus menahan rasa lapar Yang menyerang perut kalian Dan demi pendidikan kami hingga bisa mencapai cita-cita Semoga Allah menyembuhkan sakitmu Hingga dapat kulihat lagi senyum dan tawamu Jangan ada lagi rintihan kesakitan dari bibir keringmu Semoga Allah memberi kesempatan pada kami Untuk membahagiakanmu di masa tua Dan memberi kesabaran pada kami untuk merawatmu Seperti kau yang merawat kami sedari kecil Sampai kami dewasa tanpa sedikitpun mengeluh Aku sayang ayah, teramat sayang by Imel Rohimah

Related Posts:

Agus Sucipto

Maaf Admin/Sahabat2,numpang Share ya.kalau mganggu,dihapus aja. Bagi pengguna TRI yg mau tukar TRIMS/PULSA GRATIS. syarat:lebih 3 bln&isi pulsa tiap bln&hanya 1x stiap bln. Cek,panggil *777*5# jika balasanya:MAAF kode salah/valid,berarti DAPAT. jika:Terus lakukan dst,berarti TIDAK DAPAT. *Untuk kode,sms 089628590888 /BBM pin:51937B89. *PULSA BAGI 2 YA!!! by Agus Sucipto

Related Posts:

Kinomedia WA

Permisi admin dan kobimoist, Minka mau promo novel yang anget banget baru keluar dari dapur mimin. Black Romance, karya kak PIO ANDRE ini sudah bisa dinikmati menemani hari-hari kobimoist semua. Bisa didownload versi ebook di aplikasi wayang, atau nikmati printbooknya di Toko Buku Online Kinobookstore ya http://ift.tt/1P5YCEK Terima kasih. cc Hengki Kumayandi

Related Posts:

Julian Toni

Ikut memeriahkan tantangan KBMA 2015 PENULIS BUNTUNG JULIAN ft PRAWIRO --------- Alkisah pada jaman keagungan kaisar Aziz di alam Jin. HIduplah seorang penulis yang sangat mahir. Tintanya mewarnai seluruh jagat jin. Jangankan tintah merah, yang berwarna keemasan tak sungkan dia tebarkan. Penuh kebaikan. Julian dari negeri merah jambu sang penyair kasih. Yayang Ira istri kaisar Aziz, suatu hari gundah merana mendapati dirinya ditumbuhi semacam lumut hijau tua agak kekuningan. Pipinya semakin hari semakin hijau. Dia menuduh tanpa dasar yang logis bahwa semuanya disebabkan oleh mantra-mantra kasih yang ditebar Julian ke seluruh alam jin. Aziz murka. Seluruh bala tentaranya diutus untuk menghabisi Julian. Tetapi penulis tetaplah penulis. Mata Julian dicongkel dengan sadis. Darah membajiri kota Jun, tempat tinggal para pengikut Julian. Di sana tidak dikenal kematian, tetapi mata tetaplah mata. Bila dirusak fungsinya menghilang. Kini tinggallah penyair buta. ---- Altar istana "Lapor, Paduka! Target berhasil dibumi-gosongkan, Desa Jun sekarang rata dengan darah dan mata," lapor Adipati Richie, panglima terganteng dengan kumis sebelah menyamping ke tengah itu bangga. "Bagaimana dengan si biang kerok itu?" tanya kaisar Aziz agak setengah senang setelah separonya meriang, "Berkat kepiawaian ksatria kita, Sekali di-Kick! Full dipastikan ia kini tak bisa lagi melihat keindahan typo-nya Paduka! Matanya kami congkel dengan mata pancing, mata kakinya kami buang sehingga dipastikan tak lagi bisa mengais mata pencariannya, Paduka," terang Adipati Richie sambil kaki kirinya terus-terusan menggaruk kaki kanan. "Percuma, Kanda!" sanggah suara permaisuri kepada Kaisar Aziz menggelegarkan aula istana, "Dia hanya buta, tapi masih bisa bersuara, tangannya pasti masih bisa menuliskan mantra, mulutnya akan terus mengumbar prosa berdiksikan alergi dari diksidiksi untuk tubuh ini," Yayang Ira bernarasi marah bercampur kecewa hingga pipi hijaunya makin merona, "Sebelum tubuh berlumut ini makin menduri, atau kelopak-kelopaknya membuat suku bunga semakin meninggi, jangan tunggu sampai kekuatan Dinda untuk terus hidup menjadi inflasi, Selesaikan dia, Kanda! Sebelum kasih sayang di antara kita ter-akuisisi oleh kekuatan Rundap!" titah istri pada suami yang sepertinya menutup jalur negoisasi, "Kalian dengar! Ringkus dia hidup-hidup walau kutahu ia tak bisa mati, bawa ke sini dan biarkan Aku sendiri yang akan meng-eksekusi tanpa excuse me!" perintah kaisar pada Adipati Richie, "Siap! Paduka!" ------ 101 pasang mata tak berdaya menatap Julian yang kini terbelenggu pada tangan dan kaki, mulut tersumpal ... di batas bening jiwa matanya terlena menatap sesosok wajah yang menitikkan air mata. Wajah manis itu mencoba menguatkannya ... Julian mengerti tapi ia tak bisa memberi senyum menandakan bahwa ini akan baik-baik saja. Dian ... tak seharusnya kau melihat kepahitan ini dalam hidupmu, batin Julian ... "Selamat tengah hari wahai pendudukku! Kalian luar biasaaa ...," ucap Kaisar Aziz mengawali pidato sebelum eksekusi dimulai, "Hari ini, didepan kalian bersama Umi dan Adipati Richie, si penebar bencana akan dieksekusi, sekian dariku, terlebih terkurang hanya dalam ujian Mit atau semester! Kahkahkah!" singkat saja orasi kaisar, lalu ia kembali duduk dan menggosok akik terbaru, "Sebutkan permintaan terakhirmu, Jul?" Algojo Delcandrevidezh bertanya, sumpalan pun dilepas, "Apa itu perlu?" kata Julian, "Aahh, kamu mah gitu orangnya deeeh," Algojo pun salah tingkah, walau setelah itu terkekeh gemes, "Baiklah, dengarlah! Walau kau ikat mulutku, dicongkel mata, tapi aku akan tetap menebar syair kasihan dan sayangin lewat tanganku! Tak ada kematian di sini, tidak juga pada karya-karyaku!" "Cukup! Penggal tangannya!" teriak Permaisuri Yayang Ira tak sabar, "Hentikan!" Suasana mendadak hening, seluruh yang hadir tadinya deg-degan kini ser-seran mendengar kekuatan suara barusan, "Eyang Wiro ...," "Cukup! Cerita ni tak perlu dilanjutkan, ini kan kerjaannya KBMA, Kalian Bisa Menulis Apasaja, lagian tidakkah kalian perhatikan EYD?" kata Eyang tepat di tengah para hadirin, "Eyd tu apa eyang?" tanya Aziz heran, "Eyang Yang Djomblo, wik wik wik!" End by Julian Toni

Related Posts:

Umi Sakdiyah

Makan Rumput "Beruntung, ya, Jo, harga beras sudah turun, kalau enggak aku terpaksa cari rumput seperti kemarin," ujar Juki waktu bertemu Paijo di toko kelontong langganan. "Kasian amat kamu, Juki. Kalau nggak punya duit buat beli beras mbok ya bilang aku, nanti tak pinjemin. Mosok sampe makan rumput gitu," sahut Paijo sambil berlinang air mata. "Kau anggap diriku ini apa?" "Bukannya begitu, Jo!" "Kita kan sudah lama bersahabat. Sahabat itu harus selalu berbagi dalam susah maupun senang," imbuh Paijo tak habis mengerti. "Sebenarnya yang makan rumput itu bukan aku, Jo. Tapi tiga ekor kelinciku. Biasanya kan aku kasih makan nasi. Gara-gara beras mahal jadi aku terpaksa cari rumput buat makan mereka." by Umi Sakdiyah

Related Posts:

Mutiara Qolby

"Tatapan Lelap Ayah dan Bunda" Oleh: M Q Bunda... Dahulu ketika diriku masih merah muda, tiada satu malampun engkau singkirkan tanpa menjenguk bilik kecilku Bunda... Belum lagi matamu terpejamkan diriku menangis merindukan Dan kini ku telah dewasa dan matang, giliran diriku menatap untuk menyapa dedo'a malam kepadamu Menemani kilauan malam dan bersyukur ku masih dapat melihat dan mencium keningmu. Ayah... Takkan mampu ku menyingkirkan dirimu didalam lara Sebab ku sandingkan dirimu disamping bunda. Ayah... Masih ingatkah dirimu?ketika mati lampu kipas angin tak hidup waktu itu? Siapa yang menemani lelap dan memberikan angin sejuk dengan secarik lembaran buku? Ya!benar dirimu. Ayah... Ingatkah ketika bunda mengurungku karena salah perbuatanku, engkau yang membebaskanku dan membujukku waktu itu? Ya!benar dirimu. Dan kini ku telah dewasa dan matang ayah, mengetahui arti kesabaran dan kegigihan kasih sayang.. Syukurku saat ini masih dapat menatap kalian dan ingatlah!, cita dan cintaku tinggi untuk meraih kesempurnaan kasih-NYA bersama kalian. BINJAI, SUMUT 01/RAJAB by Mutiara Qolby

Related Posts:

Herbaling Cibadak

De Manggu - Manggis Baby Pernah makan buah manggis ? pasti anda teringat rasanya yang manis dan segar, tapi sering kesal dengan bijinya yang banyak dan besar. pernahkah anda tahu manggis baby ? inilah sensasi makan buah manggis dengan rasa yang lebih manis dan segar serta minim biji dan bahkan umumnya tanpa biji, sehingga langsung aaam, tinggal leep! 1 box De Manggu kemasan 1 Kg berisi 24 butir manggis baby dengan harga cuma Rp. 20.000 (blm ongkir). Pesan Sekarang sebelum kehabisan, Hp. 0818 0719 1971 by Herbaling Cibadak

Related Posts:

Princess Amanda

KLIEN ANXIETY DISORDER STADIUM 4 "Bulan November 2014 lalu, Saya pernah tangani seorang klien wanita dengan keluhan anxiety disorder yang sudah sangat parah sampai stadium 4, anxiety disorder adalah serangan kecemasan.." "Saat pertama ketemu sungguh sangat miiris melihatnya, karena beliau sedang dalam keadaan sangat cemas.." "Bahkan saya sampai di peluk bolak balik depan belakang oleh klien ini saking kecemasan yang di rasakan membuatnya begitu ketakutan.., takut meninggal, dll. "Wuiih baru sekali ini nieh di peluk bolak balik sama klien segitunya...hehe." "Alhamdulillah setelah melalui 1paket sesi hypnotherapy, hanya di pertemuan kedua beliau telah mengalami progress yang sangat membahagiakan, dengan lebih stabil serta mudah untuk fokus..." Sampai-sampai beliau mengatakan begini... "Cukup saya saja yang mengalami hal seperti ini, karena jujur serangan kecemasan yang pernah saya alami benar-benar sangat menyiksa saya lahir bathin" "Alhamdulillah sekarang beliau sudah kembali sehat dan beraktifitas seperti semula.." PESAN MORAL : "Sangat Penting perbanyak bersyukur kepada Allah dan lebih ikhlas menghadapi setiap tantangan dalam hidup, karena dengan ikhlas tantangan hidup yang di alami tidak terasa terlalu berat.." Jikalah perlu waktu untuk menangis, silahkan menangis , tapi cukup 3hari saja! Setelah itu lanjutkan hidup dengan penuh semangat dan antusias....:) by Princess Amanda

Related Posts:

Oza Sampoer

ELIPSIS Ini ilmu yang kudapatkan dari beberapa diskusi, semoga bisa bermanfaat. Dan apabila ada yang kurang atau mungkin ada kesalahan/ ketidaksepahaman, mari didiskusikan. BENTUK ELIPSIS Elipsis HARUS berupa 3 titik yang ditulis berturut-turut. Ditulis 4 titik apabila elipsis diakhiri titik. CONTOH PENGGUNAAN ELIPSIS dan PENEMPATANNYA 1. MENGHILANGKAN BAGIAN dari SEBUAH/LEBIH KALIMAT DALAM SUATU KUTIPAN. "Sebab-sebab kemerosotan ... akan diteliti lebih lanjut." "... telah memperkosa orang itu!" Hanya kalimat itu kudengar dari dalam rumah kosong seberang jalan. 2. MENUNJUKKAN ADANYA KERAGUAN, UCAPAN YANG TIDAK SELESAI/TERPUTUS/DISELA/DIPOTONG, ATAU MENGGANTUNG (DIHENTIKAN SENDIRI KARENA KAGET/TIDAK PERCAYA/TERCEKAT/TIDAK TAHU HARUS BERKATA APA LAGI). -- Oza berkata, "Aku tahu apa yang harus kulaku..." "Cukup, Za! Maafkan aku!" Almeira menyela dengan menitikan airmata. -- Almeira mendesah pasrah. Entah kapan Oza akan kembali lagi.... (Kalimat terakhir menunjukkan desahan/kepasrahan.) -- "Huft..., aku tak tahu harus bagaimana lagi...." (Kedua elipsis menunjukkan keraguan) -- "Ka...ka...kamu... selingkuh...?" tanya Oza dengan muka merah. (Jika memenggal kata, jangan diberikan spasi.) Tiba-tiba... DUARRR!!! Terdengar suara trembakan dari dalam kamar. (Setelah kata tiba-tiba, terjadi adegan setelahnya) by Oza Sampoer

Related Posts:

Andrea 'Uvy' Hidayah

- Emangsiapasih Wanita - "Jika benar laki-laki dan wanita Indonesia ingin melestarikan gerakan emansipasi wanita seperti yang diperjuangkan R.A Kartini, salah satu jalan yang harus kita tempuh baik suka atau tidak, adalah menikah--bukan pacaran. Menikah membuat kita lebih bertanggung jawab dan menjaga martabat wanita. Sedang pacaran merupakan gerakan penghancuran umat secara umum dan wanita pada khususnya". #Senja_Quotes, 20 April 2015 by Andrea 'Uvy' Hidayah

Related Posts:

Sambilan Kita Ce

Muhasabah Hati Oleh: Sam Melunaklah! Melunaklah hatiku yang pongah! Entah siapa yang merawatmu menjadi setinggi dan sejulang ini Hingga buah-buah ilmu yang harus dan seharusnya merunduk Kau pasak dan terus kau pasak agar kian melambungkanmu Bahkan saat alif masih berdiri tegak Kau bentangkan tikar-tikar kesombongan Pada tiap laku-laku pergaulan Melunaklah! Melunaklah hatiku yang congkak! Entah siapa yang mememliharamu menjadi seindah kupu-kupu Hingga kau lupa pengap dan dinginnya saat masih mengepompong Kau gitari dan terus gitari puja-puji atas keindahan Bahkan saat wangi masih memadati hidung ini Kau layangkan sayap-sayap tegap Pada bunga-bunga kehidupan Melunaklah hatiku! Melunaklah! Usah jembatani raga ini Pada jurang-jurang kebencian! Usah dabik dadamu! Usah! Atau segera pusarakan saja jasadku yang semakin lapuk Di liang-liang layyin Agar tak satu kata pun Menggores dinding-dindingmu Sebab di lubuknya Ikan-ikan lugu masih berkecimpung Berdansa dengan pasang-pasangnya Jangan kau tuba dengan buih-buih keangkuhan Jangan! Oi, Melunaklah! Melunaklah hatiku! Kerna jasad ini hanya segumpal bangkai Yang dibingkai tulang-tulang rapuh Melunaklah! Melunaklah! Hatiku! Padang, 2015 by Sambilan Kita Ce

Related Posts:

Felix Hendarto

Teman - Teman, bantu like fan pagenya ya... Caranya : 1. Klik gambar atau tulisan hotel pekalongan, 2. setelah terbuka halaman fan page. klik Like 3. makasih banget buat yang uda bantu 4. semoga banyak berkat by Felix Hendarto

Related Posts:

Anang Fauzy Gerard

Apakah Surga Untuk Nafiez di Rumahku itu Kamu? Heran! Kenapa pikiran ini tiba-tiba muncul? Padahal aku selalu berusaha memangkasnya agar tidak menyakiti hati anakku, Nafiez. Cinta memang anugerah dari Yang Maha Kuasa. Tapi apakah aku harus menerima anugerah tersebut jika kebahagiaan anakku menjadi taruhannya? Tentu tidak! Berawal dari sakit yang memaksaku mendekam di tempat yang sebenarnya ingin kujauhi, rumah sakit. Aku mengenalmu sebagai dokter yang baik. Aku tak tahu apakah itu hanya sekedar profesionalitas kerjamu sebagai seorang dokter, atau memang kau benar-benar tulus menangani pasien-pasienmu? Entahlah! Yang pasti, kau berbeda dari dokter-dokter yang biasa kukenal. Setiap pagi kau tak pernah absen mengecek tensiku dengan wajah yang selalu tersenyum. Mengkondisikan selang infus agar tetap mengalir. Mengganti sprei, selimut, dan sarung bantal dengan yang baru. Kemudian mengisi kotak obat dan menyuruhku untuk meminumnya setelah makan. Tak lupa pula kau selalu menanyakan kondisiku, menampung keluhan-keluhan yang kurasakan, dan yang pasti senantiasa memberikan suport agar aku tetap semangat mengalahkan penyakitku. Pernah suatu ketika, kau menyuntikkan vitamin syaraf kepadaku guna meringankan rasa nyeri yang ada pada tulang belakangku. Karena aku phobia jarum suntik, maka aku berusaha menolaknya. Tapi kau selalu menenangkanku dengan mengatakan perbanyak istigfar jika suntikannya terasa sakit. Ajaib memang! Hal yang aku takutkan ternyata tidak terjadi. Ya, mau tidak mau aku harus berterima kasih kepadamu. Aku terkena osteoporosis, di mana tulang belakangku rapuh dan bengkok. Aku tahu itu setelah hasil ronsen di lab keluar, dan gambarnya memang benar bahwa tulang belakangku bermasalah. Aku tak tahu apa penyebabnya. Tapi katamu, aku terlalu banyak duduk dan tidur dengan posisi yang salah, kurang olah raga, serta pola makan yang tidak dijaga dengan baik. Beruntung aku dirawat oleh dokter spesialis bedah tulang sepertimu. Kau baik, sopan, dan friendly terhadap anggota keluargaku, terutama kepada Nafiez. Kau selalu membesarkan hati Mama dan Be agar tetap sabar dan berdoa supaya aku bisa berjalan kembali. Kau juga sering menghibur Nafiez dengan memainkan Ultramannya sehingga bisa berbicara. Jadilah Nafiez lupa akan kesedihannya menunggu Papapnya di rumah sakit. Terbuat dari apakah hatimu itu, Dokter Ra? Mengapa aku sampai terjatuh ke dalam dan berusaha agar memilikinya? Bahkan setelah kusembuh dan bisa berjalan lagi, aku selalu rutin mengunjungi Poli Bedah Orthopedi bersama Nafiez hanya untuk melihat senyummu. Tuhan, maafkan aku jika kini kujatuh cinta lagi. Ada sosok yang sanggup menjagaku dan jagoan kecilku, seperti sosok Hulwah menjaga kami. Bukan berarti aku tidak mencintainya lagi, tapi mungkin ini saatnya aku memenuhi keinginan Hulwah untuk mencarikan Momy baru buat Nafiez. Tapi, apakah memang dia yang terbaik? Dokter Ra, Nafiez merasa nyaman bila berada di sampingmu. Tapi aku takut jika kau akan menolak pinanganku, meskipun kau sudah tahu statusku sebagai single Dad bagi Nafiez. Aku mencintaimu sejak pertama kali kaumenyuruhku beristigfar setiap kali jarum suntik itu masuk ke dalam tubuhku. Salahkah aku jika memelihara rasa ini dan berharap akan ada jawabannya? Pertanyaanku kepadamu selalu saja sama, apakah surga untuk Nafiez di rumahku itu kamu? Antara semoga, entah, dan pasti yang berebut memenuhi ruang kepalaku. Tapi aku selalu berharap agar pastilah yang menjadi pemenangnya, sehingga kita sama-sama akan menyatu dalam ikatan pernikahan yang diridhoi-Nya. Aamiin ... :) Pada sudut kota ini yang baru saja disiram oleh tarian hujan, aku mengharapkanmu. Bekasi, 20-4-2015. Papap. by Anang Fauzy Gerard

Related Posts:

Lia Wahyuni

#obrolanmalam Kambing Hilmi Abi :"Hilmi besok nggak usah masuk sekolah ya?" Hilmi:"Abi kok tahu sih mauku. Abi baik deh! Kebetulan sekali aku juga males, kesel" Abi:"Okelah kalo begitu. Besuk ikut Abi ya ke pasar hewan" Hilmi:"Ngapain Bi?" Abi:"Ada deh" *** Esok paginya... Hilmi :"Abi, kita mau beli apa sih?" Abi :"Itu" (tunjuk Abi pada seekor anak kambing berwarna putih mulus) Hilmi :"Yeah! Akhirnya aku punya kambing. Biar aku saja yang merawatnya ya, Bi?" Abi :"Tentu dong!" Hilmi :"Wah , kalau di tinggal sekolah ya kasihan kambingnya Bi, nggak ada yang jagain" Abi :" Lha trus?" Hilmi :"Biar Hilmi saja yang jagain , Bi sampai ia besar" Abi :" Oke!" *** Setelah seminggu bolos... Hilmi :" Abi-abi besuk aku masuk sekolah ya?" Abi :"Ah, nggak usah. Nanti kambingmu kesepian loh!" Hilmi :"Lah, nanti kalau aku ketinggalan pelajaran gimana?" Abi :"Gampang. Nanti dikejar aja sambil lari maraton" Hilmi :"Abi, aku bosen jaga kambing terus tapi kambingnya gak gedhe-gedhe" Abi:"Kan baru seminggu!" Hilmi :"Lah, aku kapan masuk sekolahnya?" Abi :"Setahun lagi. Nunggu kambingnya gedhe!" Hilmi :"Onde mande. Capek deh. Huaaa...ha...ha...ha" (tangisnya pecah) Abi :"Cup-cup-cup. Gak papa. Rosululloh dulu juga penggembala kambing. Daripada di sekolah kamu main-main mending di rumah, main-main sama kambing." Hilmi :"Huaaaaaa...ha...ha...."(tangisnya semakin keras) by Lia Wahyuni

Related Posts:

Ahmad Yusuf Abdurrohman

Selagi Masih Muda, Jadilah Bermakna! Oleh: Ahmad Yusuf Abdurrohman Sahabatku yang baik. Bagaimanakah cara kita menyikapi masa muda? "Jagalah lima perkara sebelum datangnya lima perkara; masa mudamu sebelum masa tuamu, masa kayamu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, masa hidupmu sebelum kematianmu, masa luangmu sebelum masa sempitmu." Begitulah yang Rasulullah pesankan kepada kita. Maka, sudah selayaknya kita mempergunakan masa muda dengan sebaik-baiknya sebelum masa itu melangkah meninggalkan kita. Pemuda adalah para 'agen of change'; para agen perubahan. Sebuah perjuangan, hampir mustahil sukses tanpa kiprah kawula muda. Sejarah telah membuktikan hal itu. Itulah rahasianya, mengapa Rasulullah menguatkan lini pemuda pada awal dakwahnya. Sayangnya, kini banyak para pemuda yang menjadi korban pembaratan; menjadikan dunia barat menjadi tolak ukur tren seorang pemuda. Padahal, Islam telah mengatur bagaimana menjadi seorang pemuda yang benar, menjadi para pemuda hebat yang dicita-citakan didambakan ummat. Lalu, ke manakah para pemuda muslim yang hebat itu saat ini? Maka, buktikanlah Sahabat. Kita bisa menjadi bermakna, menebar manfaat bagi sesama. Teruslah bersemangat, Sahabat! *** Jakarta, 19 April 2015 by Ahmad Yusuf Abdurrohman

Related Posts:

Arief Putera

Duhai presiden, lihatlah Kalimantan gunung-gunungnya berlubang . . . Minyak diangkut, batubara dikeruk rakyatnya pusing kebanjiran . . . Mati lampu, itu sering sekali kayak minum obat, tiga kali sehari . . . Ironi, tanah kaya energi semoga Kalimantan tak jadi ladang korupsi . . . by Arief Putera

Related Posts:

De Anank

Mungkin ada yg dari sukabumi yg pernah order di fb ANANG SETIAWANN NAKNOW bisa hub nomor d.bawah ..saya kehilangan kontak anda ... Minat HUB SMS/WA: 081946037857 PINBB : 55034C1E READYKaos(JEjak PEtualang,National Geographic,Shimano,daiwa,{bisajuga membuat kaos komunitas/topi komunitas },dll)Kain catton combet 20s standard destro,,Sablon rubber Harga mulai 70-90rbu alamat ngawi Luar ngawi kirim JNE by De Anank

Related Posts:

Teguh Reksotinoyo

MENGELUPAS | Berjatuhan tapi tak tentu Tidak teratur, sulit diatur Meninggalkan bekas yang tertentu Disebut dengan kata mengelupas | Bekas yang tersimpan rapi Kadang juga sangat kotor Kadang mengandung luka dalam Kadang bekasnya pun mengelupas | Rasa itu mengelupas sendiri Sendiri untuk merasakan pedih Pedih atau luka tersembunyi Tersembunyi dan terlindungi sepi | Tidak bisa ditempelkan Tidak bisa dikembalikan Tidak mau kembali Malah mengelupas lagi by Teguh Reksotinoyo

Related Posts:

Rahma Boniez

Selamat malam KBMers ^_^ Dua Kata Sederhana Yang Akan Membuat Keterampilan Menulis Anda Berkembang Pesat. Mungkin kita seringkali kagum pada keterampilan menulis seseorang yang semakin baik setiap hari sedangkan kemampuan kita masih jalan ditempat. Mungkin juga kita sering merasa iri pada penulis lain yang telah mampu menulis dengan lancar sedangkan kita menyusun paragraf menjadi bab saja sulitnya minta ampun. Atau mungkin juga kita sering merasa terpesona membaca buku orang lain sedangkan buku kita belum rampung juga ditulis. Lalu kita bertanya, bagaimana, sih, cara menjadi penulis seperti mereka? Jawabannya ada pada dua kata sederhana yang memiliki pengaruh besar ini: practice (latihan) yang massive (banyak). Mari saya tunjukkan sebuah contoh perbandingan. Mengapa seorang bocah umur lima tahun di Amerika sana sangat lancar berbahasa inggris, padahal mereka tidak pernah belajar bahasa inggris di sekolah? Dan mengapa pula kita orang Indonesia, setelah belajar bahasa inggris bertahun-tahun di kelas, masih banyak yang tidak bisa berbahasa inggris? Dan lebih parahnya lagi, ternyata kita sering diajarkan oleh orang yang belum tentu juga menguasai bahasa inggris (walau sering mengaku sarjana bahasa inggris! Maaf numpang nyindir… he.. he…) Contoh ini sama dengan perbandingan kita dan penulis sukses itu. Mengapa kita sering sekali merasa sulit menciptakan tulisan yang baik dan menarik? Dan mengapa pula penulis hebat itu sangat lihai menciptakan tulisan yang baik, menarik dan bahkan menggugah? Jawabannya karena kita jarang sekali latihan menulis atau bahkan sering sekali merasa malas untuk melakukannya. Sedangkan penulis yang telah sukses itu telah menulis banyak hal dalam waktu yang lama. Mereka telah memutuskan untuk menulis setiap hari walaupun hanya beberapa menit. Mereka telah mengorbankan waktu dan tenaga mereka untuk sesuatu yang mereka impikan sehingga mereka telah menjadi diri mereka yang sekarang. Felix Siauw (Seorang Best Spiritual Motivator, Asli Palembang) dalam satu buku best sellernya, How To Master Your Habits, menuliskan, “Bila seseorang banyak melatih dan mengulang, terpaksa ataupun sukarela, dia pasti akan menguasai keahlian tertentu. Inilah namanya pembentukan kebiasaan alias habits.” Benar sekali Bang Felix, setuju bangets. Bila kita banyak (massive) melatih (practice) minat kita maka dalam keadaan terpaksa ataupun sukarela, pasti kita bakal menguasainya. Apa yang ditulis Bang Felix ternyata sama dengan apa yang ditulis oleh Malcolm Gladwell dalam bukunya Outliers. “Bahwa penguasaan dalam suatu bidang tertentu merupakan kunci utama dari kesuksesan, dan penguasaan tersebut hanya bisa diperoleh oleh seseorang jika telah melakukan latihan minimal 10.000 jam.” Ya, kita akan menguasai keahlian apapun yang kita minati setelah kita berlatih selama 10 ribu jam. Kalo dihitung-hitung, 10 ribu jam itu sama dengan dua tahun. Jadi bila kita ingin ahli melakukan suatu hal, menulis misalnya, berarti kita harus berlatih menulis satu jam setiap hari selama kurang lebih dua tahun. Yups, saya setuju dengan dua pendapat dua master diatas. Saya setuju karena saya telah mengalami dan merasakannya. Ketika saya telah menulis (practice) selama kurang lebih dua tahun (massive), maka saya baru bisa merasakan kemampuan dan keterampilan menulis saya bertambah bagus. Pikiran dan tangan saya terasa sudah menyatu, keduanya sudah mulai bisa berjalan seiring seirama, bebas dari writing block. Aktivitas menulis saya pun menjadi lancar. Saya mulai bisa menulis dengan mengalir. Mantap! Jadi, anda pun bisa menjadi penulis hebat seperti penulis lain yang telah sukses itu. Syaratnya anda harus mau latihan (practice) menulis dalam waktu yang lama (massive) dengan penuh kesungguhan. Tidak ada yang instan dan magic disini. Anda hanya perlu menekan diri anda untuk mau menulis setiap hari walaupun beberapa menit atau beberapa jam. Atur jadwal anda untuk mengisi minggu dan bulan anda dengan menulis. Anda harus bersedia menjalani prosesnya dengan tekun. Anda harus bisa menikmati suka dukanya dengan sabar sampai tulisan anda terbit dan bisa dibaca serta dinikmati banyak orang. Apakah anda siap? Keep Writing :D caramenulisbuku.com by Rahma Boniez

Related Posts:

Princess Amanda

CLOSING TARGET DENGAN IMAJINASI "Ssstt..taukah sahabat bahwa pikiran bawah sadar tak bisa bedakan mana yang IMAJINASI dan mana kenyataan.." "Aku punya banyak kisah nyata hasil dari IMAJINASI tingkat yahuud.." "Asyiik banget khan hanya dengan IMAJINASI (berkhayal), closing TARGET lebih cepat dari yang di bayangkan...yipiii.." "Ceritanya beberapa tahun lalu, tepatnya bulan desember tahun 2012, aku nulis di buku impian bahwa bulan april 2013 mau punya tabungan 90.000.000." "Sejak menulis TARGET tersebut, setiap hari aku selalu berimajinasi bahwa nanti bulan april sudah closing truz punya tabungan 90.000.000, tentunya atas ijin Allah..dan terus berusaha..bukannya ngayal doank loh ya...hehe.." "Eng ing eng....tadaa...tiba-tiba tanggal 5Februari, masuklah sebuah SMS yang menanyakan tentang hypnotherapi untuk keluarganya yang bermasalah.." "Singkat cerita akhirnya orang yang SMS tadi kemudian menelpon aku, dan aku jelaskan tentang prosedur hypnotherapi dan sebagainya.." "Alhamdulillah setelah 1Jam building rapport melalui telp, saat itu juga closing di angka 125.000.000 untuk tangani 5orang sekalian memberikan private training bersertifikat kepada 5klien tersebut..., saking seneng campur shock tornado..jantungku sampai berdetak kenceng banget..kayak baru di lamar pangeran syurga...haha edisi lebay..." "Gimana gak kaget tornado.., karena belum bulan April tapi targetku sudah closing melebihi angka yang aku targetkan.." "Ternyata memang IMAJINASI (khayalan) itu sangat erat hubungannya sama prasangka baik kepada Allah looh, apa yang kita IMAJINASIKAN baik..maka Allah akan mudahkan dengan caraNya.." "So, Yukz rajin BERIMAJINASI alias berkhayal dan berikhtiar setiap hari untuk mencapai target yang di inginkan." "Sebagai seorang Professional Hypnotherapist...saranku adalah sering-seringlah berIMAJINASI di waktu-waktu yang tepat yaitu saat mau tidur, baru bangun tidur, saat hening di sepertiga malam (sekalian tahajud mas bro & mba sist...hehe)." "IMAJINASIKAN sedetail mungkin apapun yang sahabat TARGETKAN.." MAU PERCAYA...?? BUKTIKAN YUKZ...:) by Princess Amanda

Related Posts:

Dekik Yassir

== Abstrak == ® Dekik Menikmati sisa waktu sore tadi, tarikan napasku memanjang. Secangkir teh hangat menemani, sisa sesruputan. Mencoba meraba warna langit, mataku memerah jambu. Sukma terbawa arus layang-layang mengembara dibingkai hening. Aku ingin bercengkrama, help me, please! Tapi tiba-tiba awan berduyung-duyung. Pekat dan tebal. Terlalu menakutkan. Melangkahi lembayung, menepis sepi yang mengharukan. Berkutat cerita kemarin. Kerena tidak memandang esok dan seyakin setia matahari. Sebab ini aku mengingat pesan saudara, "Jadilah orang yang penuh keyakinan." Bukan begitu, kilahku. Hanya saja ketakutan menghantui dan mengurainya kian masai. Karena itu benang yang kutarik lupa tergulung. Kusut. Berantakan. "Jangan ketakutan seperti itu, Mas." Ren menepuk pundakku. "Aku ada dalam bayang-bayang jiwa-sukmamu!" Aku tersenyum renyah. Asam sedikit hilang. Thank's, relief di langit ambyar. Aku akan menikmati tiap hujan hujatan ketidakperkasaan ini. Tak sadar jika ada yang menangis, termasuk Ren. Dalam senyumnya, aku justru merambatkan diri penuh peluh kegagalan. Apa benar? Bisa saja kami akan tertawa. Nanti, jika malam berbunga hujan yang sama. Saat dulu pernah ceritakan tentang niat kami. Yang damai. *** Opening# by Dekik Yassir

Related Posts:

Agung Ridwan

ayho bantu share n bantu anak" ini biar bisa selalu ceria dengan menggambar n mewarnai di tunggu sama anak" by Agung Ridwan

Related Posts:

Si Diyan

#Flash_Fiction Kesempatan Terakhir "Ingat ya Mas! Kalau kamu sudah bertobat, kamu boleh kembali padaku!" lantang suara istri Anto terdengar di telepon. "Tapi, kabar anak-anak gimana?" "Udah deh Mas. Kalau kamu sudah bertobat, kamu boleh jemput anak-anak. Kami di rumah baru Ibu. Nanti aku kasih alamatnya." klik, telepon ditutup. Anto membuka dompetnya, ia menciumi foto anak dan istrinya. "Ayah janji, satu kali ini saja. Lalu kita kumpul bersama lagi." "Anto, ayo siap-siap. Malam ini kita ada sasaran baru," suara bariton Gun mengagetkannya. *** Sudah lewat tengah malam, Anto sedang beraksi di rumah sasarannya. Uang, perhiasan emas sudah didapatnya dari laci pertama. Ia perlahan membuka penutup mukanya dan menyeka keringat. Tiba-tiba suara di belakang mengagetkannya. "Mamaaaa ..., Ayah sudah pulang ...!!" *** by Si Diyan

Related Posts:

Dana

MUSUH TERBESAR KESEHATAN Untuk sehat, saya memprogram diri: Banyak minum, makan sayur, dan olah raga. Tapi ada saja rintangan. Terutama jika lari ke arah Citayam, di sana banyak anjing. Tadi juga sedang santai-santainya lari...."GUKKKKK!!!!" Kampret!! Saya kaget tahu! Dasar anjing! Kerjanya cuma gonggong! Ganggu orang aja! Orang digonggongin, diri gak dipikirin! Tuh auratmu ke mana-mana! Gak pernah pake celana! Sialan benar orang sini! Kayak gak ada peliharaan aja! Anjing dipiara. Lalu saya lihat di depan ada anjing, sedang berjalan, terus ke sana. Mulanya saya merasa aman, Sebab anjing itu terus ke sana. Tapi saya lihat, kemudian anjing itu berhenti. Trus menengok ke arah saya. Diam, Dia menatap lama. Ditatap begitu, saya jadi salah tingkah. Takut. Terpaksa belok masuk gang. Tampak sebuah jembatan menyeberangi sungai kecil, memasuki perumahan, tapi, walahhh, jangan-jangan, justru di sana justru banyak anjing. Celaka!! Nanti masuk ke komplekm sebentar-sebentar "Guk!!!" sebentar-sebentar "Guk!!!" Jantung saya bisa terfermentasi jadi tape. Itulah halangan saya kenapa jadi sungkan lari pagi. Banyak anjing. Tapi. Saya pikir lagi Sebenarnya ini alasan terlalu dibuat-buat Kalau memang mau, masih ada rute lain yang lebih aman. MALAS, Sebenarnya itulah rintangannya Tidak di luar sana, tapi dalam diri saya. Dan ini, tak hanya berlaku pada lari. Makan sayur pun, yang sudah saya program sebagai cara saya meningkatkan kesehatan, rintangan terbesarnya malas. Malas ke pasar, malas memasak. Padahal, kalau masak sudah dimulai, saya bisa flow, lupa waktu--menit berjalan seperti pesarat jet--saking asyiknya. Sekali lagi: MALAS Itu musuh terbesar kesehatan by Dana

Related Posts:

Qurotul Aeni

Nasihat Pernikahan Seorang Anak TK True story #akudanmuridku Pagi ini aku menerima sebuah undangan berwarna coklat. Rupanya seorang rekan kerja akan menikah di akhir pekan ini. Kabar bahagia mengetahui seorang teman akan segera menyempurnakan separuh dien-Nya, di sisi lain muncul keresahan dalam diri. "Aku kapan ya?" Tak sengaja mampir dalam otak, dan itu langsung menyeretku dalam kegalauan terdalam secara mendadak. Tanpa sadar kubaca undangan itu berulang-berulang sambil mengkhayalkan, "kapan namaku tercetak dalam sebuah undangan?" Haissshh Dan ketika aku sedang berada dalam kegalauan mendalam, serta kecemburuan yang menusuk batin(ahh, lebay). Tiba-tiba datang seorang murid perempuanku, sebut saja Echa, membuyarkan pesta kegalauan. "Lagi baca apa, Bu?" "Ini undangan," jawabku pendek sambil memperlihatkan undangan itu padanya. "Undangan menikah ya?" tanyanya lagi sambil mencoba membaca kalimat-kalimat yang tertera. Echa kebetulan sudah lancar membaca, tahun ini ia akan masuk SD. "Oh, Bu Mia mau nikah ya? Terus Bu guru mau nikah juga?" Ia bertanya sambil menyorotkan matanya yang tajam ke arahku. Aku gelagapan, dalam hati aku berkata, "ya iyalah, itu yang dari tadi bikin aku galau." Namun belum sempat kujawab, Echa justru mengatakan sesuatu yang bikin hatiku senot-senot. "Bu Guru jangan nikah. Gak usah nikah pokoknya!" Ucapnya tegas. Gadis berusia 6 tahun dan bertubuh gemuk itu menatapku serius. "Pokoknya jangan nikah, Bu. Nikah itu capek. Nanti Bu Guru ngepel, nyapu, masak terus nyuci. Capek khan?" Omeigott, kau hanya membuat persentasi kegalauanku bertambah, Nak. "Tapi Bu Guru kan kerja," kucoba menangkis jawaban anak kecil itu. "Lah itu malah lebih capek, pulang kerja nanti mesti nyapu, ngepel, nyuci terus masak. Pokoknya jangan nikah!" Ampuuunn, ini anak belajar dari siapa sihh? Kan aku makin galau, hiks. Tapi apapun itu, jika jernih hati kita seharusnya bisa memetik "maksud" dari kata-kata bocah berusia 6 tahun itu. Aku tak pernah menyangka, anak kecil mampu menyadarkanku akan sisi lain dari sebuah hakikat pernikahan itu sendiri. Jangan hanya memikirkan hal-hal yang indah saja setelah menikah, tapi banyak hal yang nanti harus kita hadapi dan jalani. Termasuk hal yang tidak kita sukai dan tak diinginkan. Ada amanah dan tanggung jawab yang berat di sana. Untuk kalian yang akan menikah dalam waktu dekat, semoga SAMARA ya. Barokallaah. Met Rehat, pals. Sepotong kisah hari ini. by Qurotul Aeni

Related Posts:

Husna Lovezacky

selalu dan mungkin akan truz ada rasa ini jika tidak aq meredamnya sendiri.. kapan dunia menyapamu? ataukah ia terlena dalam kertas2 manusia beruang ah..itu cuma ilusimu saja.. sudahlah..ada masanya qt jadi tebu atau cuma sepahnya.. ada masanya qt cuma jadi tikus yang mati di lumbung sendiri.. ada masanya qt merindukan bulan,namun stelah didapati qt hanya sesosok punguk.. lantas,kapan dunia menyapamu?entahlah diatas kaki,masih ada badan dan kepala tengadahkan tangan qt.. berdoalah..Kelak Yang Maha Kuasa membahagiakan qt..ikhlaskan yang kemaren dan pacu motivasi masa depan.. Allah with us.. Bye:Unique Husnamazone mhon kritikannya ya sahabat Kbm :-) by Husna Lovezacky

Related Posts:

Elniol S. Badrun Toelkenyoet

DI TENGAH PADANG MENGHAMPAR karya : elniol s. badrun toelkenyoet ku sampai, pada tengah menghampar, yang kuurai, inginku syukur tak terkapar, apalagi gelusar gelusur, mencari dimana tengah-tengah, mata hati berada, memancar dan memancur, maka jadilah aku cahaya, bagi ku sendiri, meski agak pendar, meski teragak kendur, ku gelar jiwa selaksar, dan sekujur tubuh, agar biasa tertatar, akulah selemah, kan bisa pula rubuh, maka dari itu tuhan, ajari aku alif ba ta Mu, manakala kulafal, jadillah otakku, jadilah hatiku, dan mata memandangku, serta pendengaranku, waktu-waktu, dan relung hamparan Mu, merajutkan keseluruhan nafas, dari yang tersengal dan lepas, yang mengelupas, akulah aku, di situ, mohonkan pada Mu, atasku, agar aku jua, hamparan Mu, bersama semua, hamparan Mu, yang ku baca sebagai tanda Mu, duhai tuhan nan menghampar alam raya, hamparan Mu, menengadahku pada Mu, doa-doaku, langit sap tujuh bertasbih merambatkannya, duhai tuhan, seru alam raya, tetapkan, ku mohon, langkah-langkah ku di situ, duhai tuhan, selaksar jiwaku digenggaman Nya, sekujur tubuhku digenggaman Nya, takutku adalah peringatan Mu yang nyata, jangan Kau matikan otak, jangan Kau bekukan hati, jangan Kau gelapkan pandanganku, jangan Kau tulikan pendengaranku. aku melindap, kudus, ahad, 19 april 2015, jam 14.32 wib by Elniol S. Badrun Toelkenyoet

Related Posts:

Gis

Apa gerimis itu masih buatmu menangis.. Atau sudah basahi hatimu tuk optimis.. Andai menangis sudahilah jangan sampai terkikis.. Andai optimis pertahankan sampai semua terasa manis.. Apa badai hatimu masih menerjang.. Atau sudah enyah menghilang.. Andai menerjang tetaplah setegar karang.. Andai menghilang tunggulah pelangi kan lekas datang.. Ini bukan gurindam.. Hanya bisik peredam.. Untuk jiwa yg mendendam.. Biar enyah terpendam.. Gis : Bisik Peredam by Gis

Related Posts:

Jajang Sutrisna

Ganteng-Ganteng Homo Fenomena laki-laki ganteng yang berorientasi homo, tiba-tiba menjadi obrolan antara saya dan Pendi, yang entah bermula dari mana. Lantas Pendi berkata, "Lebih baik saya, ya, Jang? Meski jelek, tapi normal." Saya menasehatinya, "Jangan gitu! Kalau kamu ngomong seperti itu, secara tidak langsung kamu menghina Allah yang menciptakan kamu. Kamu itu bukannya jelek...," saya menepuk pundaknya. "Kalau bukan jelek, terus apa namanya?" tanya Pendi. "Iya, kamu bukannya jelek, cuma nggak ganteng!" by Jajang Sutrisna

Related Posts:

Dekik Yassir

== K U B U R == ® Dekik Reni 'f' akhirnya akan dapat kita temukan tempat ternyaman atau bisa pula sebuah sadar yang terlewat *** #Jakarta, 20 April 2015 == == PEJALAN KAKI == ® dekik Ren 'f' ketika masih menemui cermin dan pintu, maka masih ada asa pertemuan; daun gugur atau enaknya daging binatang terpanggang terik. Setelah terganjal nadi di napasmu, maka pintu merapat dan cermin berkeping. --apatah sisa belang atau nama di perjalananmu? *** #KotaSelatan, 20 April 2015 by Dekik Yassir

Related Posts:

Azizul Aazoel

Aziz yang Malang "Ziz. Sini kamu!" panggil eyang Wiro dari arah dapur. Dengan tergesa dan tanpa menjawab, Aziz segera meluncur ke sumber suara. "Iya, Eyang. Ada perlu apa?" "Kopi habis, gula juga gak ada. Kamu ke warung gih, beli yang sachet saja biar praktis." Eyang Wiro memberikan uang 5 ribu ke tangan Aziz. *** "Beli ..., mas Richie, Aziz mau bali kopi sachet!" teriak Aziz pada penjual yang tak jauh dari rumah. Mendengar ada yang memanggil, Richie sang pemilik warung keluar dari rumah. "Eh, lu Ziz, mau beli apa?" "Kopi yang itu, berapa, Mas?" tanya Aziz, menunjuk pada kopi yang tergantung dekat pintu. "Yang ini 2 ribu. Mau berapa sachet, Ziz?" "Kalau beli dua, jadi berapa tuh?" Aziz kembali bertanya. Sejenak Richie menatap wajah polos Aziz. "Kalau beli dua jadi 5 ribu." Aziz periksa kembali uang pemberian eyang Wiro, "Oke, Mas, Aziz beli dua, pas kan? Kahkahkah ..." ujar Aziz sambil menyerahkan uangnya. Gelak tawa Aziz, terdengar senang karena tak menombok seperti biasa. *** Sampai di rumah. "Huaaaaaa, Aziz ..., kamu kapan pintarnya sih? 2 ribu ditambah 2 ribu ya 4 ribu, oon ..." Aziz mengkerut di pojokan. Tangannya berulang kali mengetuk kening yang tak bersalah. Sekeras dia menghitung, hasilnya tetap aneh di otaknya. Tok tok, "Assalamu'alaikum, Ziz! Ini mas Richie. Uang kamu tadi lebih 3 ribu. Maaf ya! Mas Baru tahu kalau 2 ribu ditambah 2 ribu samadengan 3." Belum sempat Aziz menjawab salam dan membuka pintu, eyang Wiro terlebih dahulu menyongsong kedatangan mas Richie. Dengan cepat, eyang Wiro merampas uang yang disodorkan padanya. "Lain kali, lu kalau menghitung yang benar ya, Chie. Kan kasihan si Aziz!" omel eyang Wiro sambil menyelipkan uang kembalian ke dalam kopiahnya. Richie tepuk-tepuk bahu Aziz seolah memberi kekuatan. by Azizul Aazoel

Related Posts:

Luthfi Luthf

#No_Dan_Challenge Judul: Tokoh yang Durhaka pada Penulisnya Oleh Luthfi Luthf Di bawah pohon, berdiri seorang nenek-nenek berjubah hitam. Sebatang tongkat sudah menemani perjalanannya sejauh 3 km. Tapi tenang, beliau tidak membawa jepit rambut beracun ataupun gayung, melainkan botol beling berisi air. Sebilah nampan berpindah dari dalam jubah ke atas tanah berrumput. Iseng-iseng beliau menuangkan air dari botol beling berbentuk segitiga miliknya. Kemudian suatu hal mengagetkan wajah mengerutnya. Untung saja jantung nenek itu tidak ikut copot. Air yang mengisi nampan bergerak sendiri membentuk suatu hasil ramalan yang dapat dibaca beliau. "Dunia ini, sudah terbalik," ujarnya. Terlepas dari memercayai ramalan adalah perbuatan syirik, tebakan nenek itu ada benarnya. Kemudian berucap bahwa akan ada seseorang yang berani melawan alam. Sesosok tubuh yang bungkuk itu --di bukit-- memandang rumah-rumah yang berhamparan di bawahnya. "Akan jadi apa negeri ini selanjutnya?" Matahari siang ini semakin liar memancarkan radiasinya. Dahaga tanpa permisi menyelinap di kerongkongan nenek itu. Segera beliau mengeluarkan kembali botol belingnya. Ketika tutup sudah dibuka, botol diangkat, mulut terbuka menyambut kesegarannya, "Lho? Kok habis? Padahal aku sudah bawa dari rumah? Atau jangan-jangan botol ini bekas kemarin, aku lupa mengisinya kembali. Aduh!" Beliau lupa bahwa botolnya habis dituang ke nampan. *** Adon, seorang remaja berseragam putih biru menyisir jalan di sebuah. Anehnya, walaupun hari ini ada ulangan, ia malah asyik-asyiknya bermanja dengan PSP. Bahkan lebih hebat lagi dia berjalan tanpa menabrak apapun walau matanya sedang dimanjakan oleh permainan yang melenakan. Setidaknya sampai satu kilometer kemudian ia menyelonong melewati palang kereta api. Beberapa orang di sana berteriak-teriak agar dia minggir namun malah tak dihiraukan. Akhirnya suara raungan kereta yang hendak lewat berhasil merebut perhatiannya. Adon menjerit. Tanpa sadar ia menjatuhkan mainan itu. Onggokan besi raksasa yang panjang semakin mendekat. Melahap apapun yang menghalangi perlintasannya. "Luthf, lu kan penulis cerita ini, hentikan keretanya. Gue gak mau mati!" Lho! Kok dia tahu namaku? Segala menyuruh memberhentikan kereta lagi? "Luthf, dengar gue, kan?" lanjutnya. Baiklah, aku buka mulut, "Untuk apa kuberhentikan?" "Jangan banyak ngomong! Buruan." Dengan sangat-sangat-sangat-sangat terpaksa, --ingin rasanya menyebut kata 'sangat' beberapa kali lagi-- kuberhentikan kereta itu mendadak. Membuat para penumpang terpental seluruhnya ke gerbong paling depan. Berbagai protes mereka aku telan bulat-bulat. "Maaf ya, Bapak-bapak, Ibu-ibu. Ini demi kelancaran jalannya cerita ini. Sekali lagi maafkan saya," ucapku. Sebagai gantinya kusulap luka beserta rasa sakit agar minggat dari tubuh mereka. "Tuh! Lihat, gara-gara kamu teledor hampir saja kamu mati. Tapi karena kamu itu tokoh utama, makanya kubela-belain agar kau tetap hidup. Matikan PSP-nya," lanjutku pada si Adon. Yang membuatku geram, dia malah melanjutkan permainannya itu. Ada sebongkah penyesalan telah menyelamatkannya dari maut. Sesampainya di sekolah, gerbangnya sudah ditutup. Dia terlambat. Ya sudah, tidak ada pilihan lain baginya selain kembali pulang. "Hey, Luthf, putar mundur kembali jamnya sampai jam 7," suruhnya. "Tidak mau!" "Ya udah, gue gak mau ngapa-ngapain biar ceritanya gak berjalan. Pembaca bakal ninggalin lapak lu tanpa jempol!" Huh! Dasar anak pemalas. "Makanya kalau sudah malam langsung tidur! Jangan begadang," tukasku. "Begadang jangan begadang, kalau tiada ...." Lewat segerobak dangdut keliling. Aku yang menyuruhnya bernyanyi pagi-pagi begini. "Udah! Buruan. Mau gak ceritanya berjalan?" tanyanya galak. Dasar bocah! Lagi, dengan sangat terpaksa kumundurkan kembali waktu hingga jam 7. Dia menyelonong masuk tanpa berterimakasih. *** Si nenek jubah hitam berjalan tertatih. Adakah sungai di tempat ini? Ingin rasanya beliau membunuh dahaga yang menyiksanya. "Lho?" Langkah lamban itu terhenti. Suhu udara mendadak menurun. Mata sayunya terbang ke langit. Ke mana mataharinya? "Sepertinya barusan sudah siang, kok pagi lagi? Ah, aku sudah pikun. Mungkin ini memang masih pagi." Kembali beliau berjalan. Alhamdulillah, ada bentangan sungai yang memanjakan matanya. "Air, air, air!" Langkah kakinya dipercepat. Keren, di jaman sekarang ini masih ada sungai yang jernih. Mula-mula beliau meminumnya dengan tangan, kemudian mengisi botol kosong untuk persediaan selama perjalanan. Semburat senyum terpancar dari wajah senjanya. Benda beling penuh air itu beliau letakkan di tepi sungai. Kakinya ingin berendam dahulu setelah disiksa oleh kasarnya jalanan di bukit itu. Akhirnya pulih kembali. Kakinya siap digerakkan hingga berkilo-kilometer. Saatnya melanjutkan perjalanan. *** Ulangan telah usai. Saatnya pembagian nilai. Ketika kertas Adon mendarat di mejanya, mata besar itu terbelalak kala ada lingkaran merah besar yang menempel di sudut kertas itu. "Gak! Gak! Bisa diomeli kalo kayak begini," gumamnya. Setelah kejadian ini, pasti aku yang menjadi tempat pernintaannya berlabuh. "Luthf, ubah nilai gue jadi 100!" Ia merentangkan kertasnya tepat di depan wajahku. "Tulis saja sendiri, sana. Tambakan angka 10 di depannya. Jadi kan, 100?" jawabku ketus. "Gak ada gunanya kalo gitu, mah! Data yang ada sama Pak guru tetap nilai gue nol. Ayo buruan!" Aku benar-benar kesal. Dasar anak durhaka. Allah, maafkan Hamba yang sudah kehabisan kesabaran .Tangan ini akhirnya mengangkat kerah baju Adon. "Hey, anda bukan Aladdin, saya bukan Jin. Jadi jangan minta keajaiban apapun dari saya. Tahu tidak, cerita saya jadi berantakan gara-gara anda." Kutatap penuh amarah matanya yang berubah ketakutan. "Hey, tenang!" Pak guru menggebrak meja. "Luthf, kau keluar dari ruang kelas ini. Kau bukan siswa sekolah ini." Telunjuk beliau tepat mengarah pada wajahku. "Iya, Pak." Aku beringsut menghilang sambil membawa amarah yang belum puas. Anak seperti Adon tak boleh selamanya hidup. Khawatir anak-anak lain akan mencontoh ketidak sopanannya. Lihat saja, di abad ini banyak anak yang melawan orang tua. Ada juga yang bukan memanggil dengan sebutan Ayah atau Ibu, melainkan nama aslinya. Pun tak sedikit yang berbicara dengan menggunakan kata lo-gue. Aha! Aku tahu bagaimana cara mematikan Si Adon. *** Langkah kaki yang kuat membuat nenek jubah hitam 'menyasar' ke toko parfum. Wajahnya dimasukkan ke dalam jubah untuk memeriksa bau badannya. Kemudian keluar dengan memasang wajah menahan muntah. Maklumlah, perjalanan jauh. "Permisi, Dek. Parfum itu harganya berapa?" Beliau menunjuk salah satu barang dagangan yang kebetulan bentuk botolnya sama dengan yang dimiliki. "120 ribu, Bu," jawab si penjaga toko sambil meminjamkan untuk diperlihatkannya. Mana ada uang sebanyak itu? Si nenek mengeluarkan botol miliknya. "Bentuknya sama ya, Dek." Padahal beliau sangat ingin mengoleksi botol berbentuk seperti itu. "Ya sudah. Tak jadi beli deh, Dek. Maaf, ya." "Iya, Bu. Gak papa. Hati-hati di jalan, Bu." *** Pinggir jalan. Diam-diam kuperhatikan Adon sedang berjalan pulang sekolah dengan murung. Apa aku keterlaluan? Tapi kalau dia dimanjakan terus akan menjadi anak pemalas. Nilai nol-nya itu kan karena keseringan main game. Tiba-tiba dari kejauhan muncul seorang nenek-nenek jubah membawa tongkat. Mereka akan berpapasan. Sebaiknya aku jangan keluar dulu. Tetap memantau dari sini. Namanya juga penulis, aku bisa bersembunyi di mana saja sesuka hati. "Cu," panggil si nenek jubah. "Kenapa, Nek?" Adon mengangkat wajah. "Kamu tampak sedih, Cu. Nama kamu siapa?" "Adon." Tangan nenek yang dipenuhi keriput membelai rambut pendek anak itu. "Anak muda harus semangat. Jangan pundung." Lalu beliau mengeluarkan sebotol air dari dalam jubahnya. "Ayo minum dulu. Ini akan membuatmu baikan." Anak itu menerimanya. Dia minum hingga habis tanpa sisa. Tiba-tiba aroma yang sangat wangi menyebar dari mulutnya. Seketika itu juga tubuh Adon roboh. Ternyata botol si nenek tertukar dengan parfum mahal tadi. "Hahahahahahahahahahahahahahahahah!" Aku tertawa menang. Akhirnya. Tamat :v by Luthfi Luthf

Related Posts:

Princess Amanda

KETIKA SEORANG AYAH HANYA PANDAI MEMBERI MATERI TANPA PERHATIAN "Apa yang terjadi dengan jiwa ananda jika yang terjadi ayahnya hanya sekedar memberi materi tanpa perhatian....?" "Pasti dan pasti ananda akan tumbuh dengan jiwa yang gersang plus kering kerontang minim kasih sayang.." "Sehingga akibatnya ananda bisa menjadi sangat pasif ataupun sangat aktif dalam mencari perhatian dari ayahnya dengan cara bikin ulah macem.." "Sehingga seringnya terjadi seks bebas diluar sana karena ananda kurang kasih sayang dan perhatian.." "Seperti kasus klien skizofrenia yang saya tangani, Ia mengaku sangat minim kasih sayang ayah.." "Belum lagi dengan permasalahan rumah tangga ayah bundanya yang sudah membuatnya tertekan sejak dalam kandungan.." Koq saya tau sejak dalam kandungan...? Hehe tau dunk..saya khan seorang hypnotherapyst yang ahli menggali informasi....:) PESAN MORAL : buat para ayah..sesungguhnya ananda sangat mendambakan bisa sering ngobrol atau curhat dengan ayahnya...sesibuk sibuknya ayahanda bekerja...sangat wajiib menyediakan waktu yang berkualitas untuk memberi perhatian lebih kepada ananda...bukan hanya sekedar jalan di mall, makan atau nonton... Tapi anak perlu di belai hatinya dengan sering2 menanyakan aktifitas di sekolah, tentang teman2nya atau tentang ide2 kreatifnya.... Alhamdulillah saya sendiri tumbuh besar dengan kasih sayang dan perhatian seorang ayah yang sangat sempurna....karena saya bisa ngobrol, curhat dan bercerita apa saja kepada ayah saya...:) by Princess Amanda

Related Posts:

Majelis Pena Inspirasi

Bagi yang ingin ikutan event menulis surat untuk presiden Jokowi silahkan bergabung ke grup Majelis Pena Inspirasi dan ikutan deh. Ada hadiah menarik dari kami. DeadLine 30 April 2015 by Majelis Pena Inspirasi

Related Posts:

Azizul Aazoel

Aziz yang Malang "Ziz. Sini kamu!" panggil eyang Wiro dari arah dapur. Dengan tergesa dan tanpa menjawab, Aziz segera meluncur ke sumber suara. "Iya, Eyang. Ada perlu apa?" "Kopi habis, gula juga gak ada. Kamu ke warung gih, beli yang sachet saja biar praktis." Eyang Wiro memberikan uang 5 ribu ke tangan Aziz. *** "Beli ..., mas Richie, Aziz mau bali kopi sachet!" teriak Aziz pada penjual yang tak jauh dari rumah. Mendengar ada yang memanggil, Richie sang pemilik warung keluar dari rumah. "Eh, lu Ziz, mau beli apa?" "Kopi yang itu, berapa, Mas?" tanya Aziz, menunjuk pada kopi yang tergantung dekat pintu. "Yang ini 2 ribu. Mau berapa sachet, Ziz?" "Kalau beli dua, jadi berapa tuh?" Aziz kembali bertanya. Sejenak Richie menatap wajah polos Aziz. "Kalau beli dua jadi 5 ribu." Aziz periksa kembali uang pemberian eyang Wiro, "Oke, Mas, Aziz beli dua, pas kan? Kahkahkah ..." ujar Aziz sambil menyerahkan uangnya. Gelak tawa Aziz, terdengar senang karena tak menombok seperti biasa. *** Sampai di rumah. "Huaaaaaa, Aziz ..., kamu kapan pintarnya sih? 2 ribu ditambah 2 ribu ya 4 ribu, oon ..." Aziz mengkerut di pojokan. Tangannya berulang kali mengetuk kening yang tak bersalah. Sekeras dia menghitung, hasilnya tetap aneh di otaknya. Tok tok, "Assalamu'alaikum, Ziz! Ini mas Richie. Uang kamu tadi lebih 3 ribu. Maaf ya! Mas Baru tahu kalau 2 ribu ditambah 2 ribu samadengan 3." Belum sempat Aziz menjawab salam dan membuka pintu, eyang Wiro terlebih dahulu menyongsong kedatangan mas Richie. Dengan cepat, eyang Wiro merampas uang yang disodorkan padanya. "Lain kali, lu kalau menghitung yang benar ya, Chie. Kan kasihan si Aziz!" omel eyang Wiro sambil menyelipkan uang kembalian ke dalam kopiahnya. Richie tepuk-tepuk bahu Aziz seolah memberi kekuatan. by Azizul Aazoel

Related Posts:

Aim

FAKTA.. menurut sebagian pendapat, kata "pahlawan" berasal dari Bahasa Arab "bahlawan" yg berarti "pesulap". Karena pahlawan adalah orang yang melakukan hal besar dan di luar nalar. by Aim

Related Posts:

Odjan Murod AL Hakiki

Bukan tetang kamu menolak atau mau, atau lebih tepatnya untuk tidak memperdulikan. Ini adalah caraku untuk mencari hal yang paling penting dalam hidupku. Yaitu pelengkap hidup. Odjan'92 by Odjan Murod AL Hakiki

Related Posts:

Fikry Ainul Bachtiar

Tentang Dajjal dan Dongengan Islam agama rasional. Pemahaman yang salah di kebanyakan Muslim bahwa Dajjal serupa makhluk tinggi raksasa bermata satu macam mitologi Cyclops-nya orang Yunani, yang katanya suka merusak kota-kota. Sebenarnya Dajjal itu manusia biasa cuma diberi semacam kelebihan oleh Allah untuk mengeluarkan beberapa keajaiban lewat tangannya. Dimaksudkan untuk menguji keimanan kita lantaran lewat dia kita tidak tahu mana yang benar, mana yang salah (syubhat) dan menjurus ke musyrik. Secara moral Dajjal amat baik, dia seorang 'ulama--ahli ilmu' bahkan Rasul melarang umatnya agar tak menemui Dajjal karena pengaruhnya sangat kuat. Awalnya ia mengaku Nabi lantas Tuhan, dan mengajarkan kesamaan semua agama dunia (Pluralisme). Dan itulah yang sebenarnya perlu ditakuti, pemahaman yang salah tentang aqidah dan tauhid, Dajjal merusak orang lewat ilmunya bukan secara fisik (secara fisik terjadi menjelang akhir zaman, dunia dibagi menjadi dua kekuatan; antara Nabi Isa dan Dajjal). Adalah menggelikan sekaligus menyayangkan, saya lihat acara ke-Islaman di salah satu televisi nasional menjelaskan tentang Dajjal seperti dongeng untuk anak kecil saja bahwa Dajjal katanya bertubuh raksasa, bermata satu, lengkap dengan ilustrasi gambar sesosok raksasa dari film entah. Tentu saja umat yang belum tahu dan tak mau tahu dijebak pemahaman yang salah--utamanya anak-anak, padahal pemahaman soal Dajjal adalah hal penting agar terhindar dari fitnahnya. Nanti-nanti anak-anak yang kritis mungkin akan menganggap hadits Nabi sama dengan buku dongeng yang selalu mereka baca. by Fikry Ainul Bachtiar

Related Posts:

Lia Wahyuni

#obrolanmalam Kambing Hilmi Abi :"Hilmi besok nggak usah masuk sekolah ya?" Hilmi:"Abi kok tahu sih mauku. Abi baik deh! Kebetulan sekali aku juga males, kesel" Abi:"Okelah kalo begitu. Besuk ikut Abi ya ke pasar hewan" Hilmi:"Ngapain Bi?" Abi:"Ada deh" *** Esok paginya... Hilmi :"Abi, kita mau beli apa sih?" Abi :"Itu" (tunjuk Abi pada seekor anak kambing berwarna putih mulus) Hilmi :"Yeah! Akhirnya aku punya kambing. Biar aku saja yang merawatnya ya, Bi?" Abi :"Tentu dong!" Hilmi :"Wah , kalau di tinggal sekolah ya kasihan kambingnya Bi, nggak ada yang jagain" Abi :" Lha trus?" Hilmi :"Biar Hilmi saja yang jagain , Bi sampai ia besar" Abi :" Oke!" *** Setelah seminggu bolos... Hilmi :" Abi-abi besuk aku masuk sekolah ya?" Abi :"Ah, nggak usah. Nanti kambingmu kesepian loh!" Hilmi :"Lah, nanti kalau aku ketinggalan pelajaran gimana?" Abi :"Gampang. Nanti dikejar aja sambil lari maraton" Hilmi :"Abi, aku bosen jaga kambing terus tapi kambingnya gak gedhe-gedhe" Abi:"Kan baru seminggu!" Hilmi :"Lah, aku kapan masuk sekolahnya?" Abi :"Setahun lagi. Nunggu kambingnya gedhe!" Hilmi :"Onde mande. Capek deh. Huaaa...ha...ha...ha" (tangisnya pecah) Abi :"Cup-cup-cup. Gak papa. Rosululloh dulu juga penggembala kambing. Daripada di sekolah kamu main-main mending di rumah, main-main sama kambing." Hilmi :"Huaaaaaa...ha...ha...."(tangisnya semakin keras) by Lia Wahyuni

Related Posts:

Dekik Yassir

Apakah puisi juga masuk kategoru 'dosa' pengulangan kata? TRAGEDI WINKA & SIHKA kawin kawin kawin kawin kawin ka win ka win ka win ka win ka winka winka sihka sihka sihka sih ka sih ka sih ka sih ka sih ka sih sih sih sih sih sih ka Ku Sajak karya Sutardji Calzoum Bachri #absurd_pertanyaannya by Dekik Yassir

Related Posts:

Herfiani Herman

Aq sudah berbisik bahkan berteriak dikupingmu,tpi km tak pernh mau mengerti, salahkah klo Kali ini aq lelah,,,dimana hati Yg dlu lembut merayuku,dimna hati Yg dlu kudamba,,entah bagaimna akhirnya nanti Kali ini aq mnyerah aq tak temukan jalan Utk itu by Herfiani Herman

Related Posts:

Ahmad Yusuf Abdurrohman

Menebar Kebaikan Oleh: Ahmad Yusuf Abdurrohman *** Sahabatku yang baik. Dalam lika-liku jalan hidup yang kita tempuh, ada dua golongan manusia. Seringkali kita menemui keduanya, berinteraksi dengan mereka, bahkan kita bisa termasuk dari salah satunya. Namun, pertanyaannya sekarang adalah; termasuk golongan yang manakah kita? Golongan yang pertama adalah kumpulan dari orang-orang yang selalu menebar kebaikan; di manapun dan kapan pun mereka berada. Tak peduli apakah orang lain akan membalas kebaikan yang mereka lakukan ataupun tidak, mereka tetap berbuat baik. Meskipun orang lain pernah berbuat buruk kepada mereka, tetaplah balasan baik yang dihaturkan dengan keikhlasan yang tertanam dalam kalbu. Sedangkan golongan kedua adalah kelompok orang-orang yang selalu menebar keburukan di manapun mereka berada. Keberadaan mereka selalu bagai duri yang siap menusuk dan melukai. Tak peduli kawan ataupun lawan, jika mereka tak suka pasti akan ada saja ulah buruk yang tertunaikan. Nah, Sahabat baikku. Lalu, manakah yang kaupilih? Pilihlah golongan yang pertama, jadilah seperti mereka; para pengibar bendera kebaikan yang selau melangkah maju menyuarakan kebenaran. Jika ditanyakan sampai kapan dirimu akan menebar kebaikan, jawablah dengan lantang, "Sampai kakiku melangkah ke surga." Suatu hari, seorang lelaki dari Khurasan datang untuk bertanya-tanya kepada Imam Ahmad Rahimahullah : ﻗِﻴْﻞَ ﻟِﻺﻣَﺎﻡ ﺃَﺣْﻤَﺪَ: ﻣَﺘﻰَ ﻳَﺠِﺪُ ﺍْﻟﻌَﺒْﺪُ ﻃَﻌْﻢَ ﺍﻟﺮَّﺍﺣَﺔِ ؟ ﻓَﻘَﺎﻝَ: ﻋِﻨْﺪَ ﺃّﻭَّﻝِ ﻗَﺪَﻡٍ ﻳَﻀَﻌُﻬﺎَ ﻓِﻲْ ﺍْﻟﺠَﻨَّﺔِ . Imam Ahmad ditanya,“Kapan seorang hamba itu beristirahat (dari sibuk berbuat kebaikan)?” Imam Ahmad menjawab: “Ketika pertama kali telapak kakinya menginjak surga”. (Thabaqat Hanabilah, 1/293) Maka, tetaplah menebar kebaikan, Kawan! *** Jakarta, 19 April 2015 by Ahmad Yusuf Abdurrohman

Related Posts:

Isa Maulana

* #Edisi_Coret_coretan * Lagi ga fokus ... Jadi, bobo ja deh ... :-D #Sedikit_Sakit Isa Mahesa, 19-04-2015 by Isa Maulana

Related Posts:

Diasari Idealisia

Ingin berteriak Ku muak Semua pedih terpendam Lelah hati lelah jiwa dan raga Ingin berlari Tapi kaki ku terikat Terikat oleh cinta Para malaikat kecil Canda tawanya Hiruk pikuk tangisnya Akhirnya ku hanya bisa tersenyum, tertawa Dengan semua kepalsuan Kembali mengumpulkan kekuatan hati Untuk terus bertahan Meski hati tercabik oleh luka Demi cinta-cinta kecilku Palembang, 19 april 2015 by Diasari Idealisia

Related Posts:

Imam Syafi'i

PUasa rajab (20 april nanti). 1 hari seperti puasa setahun. 7 hari ditutup pintu2 neraka jahannam. 8 hari dibuka pintu 8 surga.10 hari dikabulkan sgala permintaannya. Dan barang siapa yg mengingatkan ttg ini seakan ibadah 80 tahun. Subhanallah :) "Maafin saya kalo saya ada salah :') " Tepat Jam 12 Malam nanti, akan datangnya 1 Safar. Rasullullah Bersabda "Barangg Siapa Yang Memberitahukan Berita 1 Safar Kepada Yang Lain, Maka Haram Api Neraka Baginya". Dan tolong baca sebentar aja kita berdzikir mengingat اَللّهُ ... "Subhanallah, Walhamdulillah, Walaa ilaaha ilallah, Allahu-Akbar, laa haula wala quwata illa billahil aliyil adzim” Sebarkan!, Anda akan membuat beribu-ribu manusia berzikir kepada Allah SWT آمِّيْنَ آمِّيْنَ آمِّيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ maaf... Jangan putus di Anda. by Imam Syafi'i

Related Posts:

Rony Del Bachty

HAKIKAT CINTA Rony del bachty Pada fajar aku berpesan Sampaikan salam pada Dia Sebab cintaku pada awan, Melebihi cintaku pada angkasa. Percintaan terukir begitu nyata Gairah pikir terbang tinggi Kaidah hati berwarna-warni Laksana pelangi merasuk cakrawala. Pada angin aku sampaikan Hantarlah niatku pada kekasih Bawalah mimpiku bersama perawi Dudukkan aku di khayangan. Percintaan ini sangat mendalam Ber-Ibu puja-puji padaNya Ikatan kasih bertali asmara Satukan hati berpatri kalam. Pada langit aku gantungkan Se-titik do'a penuh harapan Kala bersunyi aku dendangkan Bait-bait asma ku lantunkan. Percintaan hakiki tiada batasnya Haribaan duniawi jadi perantara Antara Tuhan dan hamba Tautkan jiwa pendendam cinta. Sang Maha Tinggi ku puja-puja Belahan hati ku bela-bela, di hadapanNya. Cikupa, 19.04.2015 by Rony Del Bachty

Related Posts:

Umi Sakdiyah

Makan Rumput "Beruntung, ya, Jo, harga beras sudah turun, kalau enggak aku terpaksa cari rumput seperti kemarin," ujar Juki waktu bertemu Paijo di toko kelontong langganan. "Kasian amat kamu, Juki. Kalau nggak punya duit buat beli beras mbok ya bilang aku, nanti tak pinjemin. Mosok sampe makan rumput gitu," sahut Paijo sambil berlinang air mata. "Kau anggap diriku ini apa?" "Bukannya begitu, Jo!" "Kita kan sudah lama bersahabat. Sahabat itu harus selalu berbagi dalam susah maupun senang," imbuh Paijo tak habis mengerti. "Sebenarnya yang makan rumput itu bukan aku, Jo. Tapi tiga ekor kelinciku. Biasanya kan aku kasih makan nasi. Gara-gara beras mahal jadi aku terpaksa cari rumput buat makan mereka." by Umi Sakdiyah

Related Posts:

Prawiro Toko Asma Nadia

Kita sambut bulan Rajab dengan doa "Allahumma baariklana fii rojaba wa sya'bana wa ballighna Romadhon" 'Ya Allah Berkahilah kami dbulan Rajab, Sya'ban serta sampaikanlah umur kami ke bulan Ramadhan" by Prawiro Toko Asma Nadia

Related Posts:

Chaa Syafaa Chachamow

Berdasarkan nama grupnya, bisakah ini sebagai tempat sharing seputar kegiatan menulis atau tata cara penulisan? Aku tertarik pada tata cara penulisan bahasa indonesia. Mengenai penambahan imbuhan me- (meliputi mem-, men-, meng-). Aku pernah membaca bahwa imbuhan me- yang diikuti oleh kata yg berawalan huruf K,T,S, dan P maka huruf tersebut akan melebur. Dengan syarat bahwa huruf keduanya huruf vokal. Kecuali untuk kata mempunyai dan memperhatikan. Dua kata itu tidak akan luluh. Seperti contoh : memedulikan bukan mempedulikan. Memercayai bukan mempercayai. Menyapu bukan mensapu. Menangkap bukan mentangkap. Nah, apakah semua kata dasar yg berawalan huruf k,t,s, dan p akan luluh? Seperti kata mempesona jadi memesona? (kalau posting ini dikatakan mengganggu, saya akan menghapusnya saja :3) Terima kasih :) by Chaa Syafaa Chachamow

Related Posts:

Alfin Bach Rum

STOP FACEBOOK SEKARANG JUGA!!! Yakin facebook bawa manfaat? Yakin facebook itu halal? Yakin facebook tempat yang baik? Yakin facebook tempat berbagi? Yakin? Yakin? Yakin? Yakin kita muslim? ? ??? by Alfin Bach Rum

Related Posts:

Lala Harleta

AKU SI WANITA ULAR Aku si wanita ular. Tubuhku manusia namun kulitku seperti ular. Bersisik dan licin. Saat aku beranjak dewasa kulitku mengelupas menampakkan borok di baliknya. Warga desa bilang aku membunuh ibuku saat melahirkanku dan ayahku menjadi gila sampai beliau membuangku. Aku tidak khawatir karena nenek sangat mencintaiku. Sekarang nenek hanyalah tengkorak yang amat kusayang, aku bercerita dengan nenek segalanya. Seperti saat ini aku menceritakan ide brillianku yg sudah terealisasikan kepada nenek. Dengan semangat aku menuju gua kediamanku di puncak gunung. "Nek, seorang wanita bilang alasan nenek mencintaiku karena nenek tidak dapat melihat rupaku yg mengerikan" aku mengelus ngelus kepala nenek yang sudah tak berambut. "Tapi nek, nenek jangan khawatir, aku sudah menemukan solusi agar semua orang menerimaku dengan lapang dada. Aku yang seperti ini" Kukecup dahi nenek, dan kutunjukkan alasannya. "Aku sudah mencongkel mata mata penduduk desa yang aku temui, Sebentar lagi mereka akan mau berteman denganku" by Lala Harleta

Related Posts:

Dwi Masrokhah

HARGA SEBUAH KEPUTUSAN Afina Yasmine “Saya terima nikahnya Yayang Ira binti Abdul Aziz dengan mas kawin tersebut dibayar tunai,” jawab mas Azizul dengan mantap di hadapan penghulu dan para tamu. “Saah?” tanya penghulu. “Saaaaah.” Para tamu pun serentak menjawab dengan penuh semangat. Suara lantang mereka seakan-akan mampu merobohkan atap rumah kecil keluarga Abdul Aziz. Mbah Kyai pun segera memimpin doa. Pernikahanku pernikahan sederhana, maharnya pun bukan intan permata. Seperangkat alat sholat kuterima dengan bahagia. Kuingat saat kami mendiskusikan mengenai mahar yang akan aku terima, sebaik-baik perhiasan di dunia adalah wanita salehah, katanya waktu itu. Menurutnya “Yayang Ira” telah memenuhi kriteria itu, sontak meronalah pipiku. Malu. Bagaimana tidak, mas Azizul mengucapkannya di depan ayah dan ibu. Sebenarnya bukan itu alasan utama pria bermuka manis ini, hanya memberikan mahar seperangkat alat sholat. Bukan pula karena dia tak mampu. Selepas pernikahan dia ingin memboyongku ke ujung timur Indonesia, Papua. Dia telah bekerja sebagai abdi negara di sana. Sedangkan saat itu, aku belum mempunyai penghasilan, baru lulus dari sebuah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ternama. Hanya berselang satu minggu dari hari pernikahan itu, kami harus pindah ke bumi cenderawasih. Mulai hari itu aku bertekad menjadi istri terbaik untuk dia yang telah bertanggung jawab atas hidupku. Kusiapkan sebuah buku catatan yang diperlukan, “BAHAGIA BERSAMAMU” sengaja kutulis di halaman terdepan. Tak menunggu lama, tiga bulan pernikahan, kabar bahagia pun datang. Tuhan memberikan amanah untuk kami, menjadi orang tua. Mas Azizul bertambah romantis, sesekali dia pulang saat makan siang, membawakan siomay kesukaanku. Masa kehamilanku memasuki tujuh bulan, “Yang, kamu melahirkan di sini saja ya? Nanti biar ibu yang menemani,” ucap mas Azizul mengawali diskusi “Mas masih ada proyek yang harus diselesaikan.”. Ketika mas Azizul mengucap kata ibu, berarti yang dia maksud ibuku. Sedangkan mama dan papa adalah panggilanku kepada mertua. “Tapi, Mas,” belum selesai kalimat kuucapkan, mas Azizul sudah menimpali, “semua fasilitas di sini sudah lengkap, Yang. Dokter hebat juga tersedia. Yakinlah, semuanya akan berjalan lancar!” Lelaki berkacamata ini sudah mulai mengeluarkan jurus andalannya yang harus kujawab dengan sebuah anggukan kepala. Usia putra pertamaku satu tahun, saat kami memutuskan untuk mengunjungi mama dan papa. Pesawat yang kami tumpangi berhasil mendarat dengan sukses di bandara I Gusti Ngurah Rai. Diluar dugaanku mama dan papa menjemput kami. Memang sudah rahasia umum, kalau mama dan aku sedikit tidak cocok. Lampu merah itu, menghentikan laju mobil yang kami tumpangi. Seorang wanita berusia sekitar dua puluh lima tahun yang menenteng tas kerja menyeberang di depan mobil kami. Tampaknya dia seorang pekerja. “Ziz, harusnya wanita yang seperti itu yang kamu nikahi,” ucap mama. Pria di sampingku tak menjawab, dia lebih memilih sibuk dengan tabnya. Aku tahu dia hanya pura-pura sibuk, agar pembicaraan ini tidak berlanjut. Mama memang terobsesi untuk memiliki seorang menantu yang mempunyai pekerjaan. “Ziz, kamu dengar mama?” “Eh, ada apa Ma?” “Ah, lupakan.” Mama menghela nafas dalam. Begitulah cara dia menjaga hatiku. Pernah suatu hari aku lelah menghadapi mama, aku pun protes padanya. “Seorang mama itu telah merawat lelaki yang kini merawatmu, Yang. Mungkin beliau mulai menua, kamu harus sabar ya. Mamaku itu juga ibumu, Sayang,” ucapnya suatu hari. Tanpa terasa sepuluh hari sudah aku di Pulau Dewata. Saatnya berkemas untuk kembali pulang. Kucium tangan mama dan papa. “Pa, Ma, Ira balik dulu. Papa dan Mama jaga diri, jaga kesehatan ya,” kata yang terucap dari bibirku saat pergi meninggalkan mereka. Sebuah lambaian tangan mengantarkan kepergian kami. Pernikahan kami memasuki usia ketiga, dengan perlahan kuberanikan bertanya pada mas Azizul, “Mas, bolehkah aku bekerja?” Mas Azizul mengalihkan tatapan dari layar ke mata sayuku. “Yang, kenapa kamu ingin bekerja? Kamu masih memikirkan kata-kata mama? Kamu ingin membuktikan bahwa kamu juga bisa bekerja?” “Bukan, bukan begitu, Mas. Yang mulai bosan di rumah. Yang ingin memanfaatkan ijazah yang kumiliki.” “Baiklah, kau boleh bekerja. Tapi jangan pernah telantarkan dia.” Telunjuk itu mengarah pada anak kami yang sedang tertidur pulas di ranjangnya. “Terima kasih, Mas,” jawabku seraya menciumnya lengkap. Akhirnya aku punya pekerjaan baru, day care menjadi pilihanku untuk melaksanakan syarat dari mas Azizul. Ternyata waktu tiga tahun tidak cukup untuk memahami semua sifat mas Azizul. Aku mulai sadar ketika kukirim sebuah pesan singkat menanyakan apakah dia sudah makan siang. Satu menit, dua menit, bahkan satu jam telah berlalu. Tidak ada jawaban. “Mas, pesan Yang masuk kan?” tanyaku. “Iya, masuk. Kenapa, Yang?” Diapun balik bertanya. “Kok tidak dibalas? Mas sibukkah?” “Tidak juga Yang. Mas sudah gede, untuk masalah makan masak juga harus diingatkan? Mas akan makan kalau lapar.” jawabnya. “Oo,” Aku hanya bisa bilang seperti itu. Sifat mas Azizul berbeda seratus delapan puluh derajat denganku, mengenai romantisme. Celakanya itu yang kuinginkan sekarang. Mungkin aku mulai terpengaruh dengan cerita romantis pernikahan teman sekantor. Orang bilang agar suatu pernikahan romantis maka salah satu harus memulainya. Kejutan-kejutan kecil mulai kuberikan untuknya, setiap tanggal pernikahan kami aku menyiapkan sebuah acara. Sambil kupersiapkan sebuah kejutan besar di hari ulang tahunnya, nanti. Masih ada enam bulan, pikirku. Sorong, 31 Juli Minggu pagi, mentari bersinar cerah, burung-burung berkicau dengan suara indah. Mas Azizul masih berlari-lari mengitari komplek, hari ini aku izin tidak menemaninya. Sakit kujadikan alasan utama. Tak ada kata khawatir dari mulutnya, mungkin karena aku masih melakukan aktifitas seperti biasa. Setelah ini mas Azizul pasti berubah, batinku. “Selamat ulang tahun, kami ucapkan. Selamat panjang umur kita kan doakan. Selamat sejahtera sehat sentosa. Selamat panjang umur dan bahagia.” “Tiup lilinnya. Tiup lilinnya, “ belum selesai kami menyanyikan lagu, suara bariton mas Azizul mengagetkan kami berdua, “apa-apan ini Ma? Ayah tidak suka!” Sakit. Enam bulan aku berusaha membuat kue untuknya tidak dihargai, terlebih aku dibentaknya di hadapan putra kecil kami. Aku mulai berpikir dia juga tidak menghargai semua aktifitas yang kulakukan untuknya. Aku merasa dia hanya melihatku sebagai pelengkap di kala malamya. Aku akan melakukan protes, batinku. Putra pertama kami, kuungsikan di rumah sepupuku. Keesokan harinya, aku tak mau memasak untuknya. Kudiamkan dia tak kusapa. Pulang kerja pun menjadi sesuka hatiku. Diapun tak menghubungiku sama sekali. Seminggu sudah aku melakukan aksi protes ini, dia mulai tidak nyaman. “Yang, maumu apa sih?” “ Mas tidak merasa bersalah?” “Masih seputar kue ulang tahun?” “Mas tidak pernah menghargai Yang. Mas tidak pernah mau berubah. Egois. Sekarang aku yang bertanya, mau mas apa?” “Yang, bagaimana kamu bisa menganggap mas egois. Mas bekerja untukmu. Hanya karena itu kue ulang tahun mas kamu diamkan seminggu. Sekarang siapa yang egois?” “Mas, Yang tak hanya butuh uang. Yang juga butuh perhatian. Nyaris dua tahun Mas, Yang sudah bersabar. Enam bulan Yang mempersiapkan yang Mas bilang hanya sekedar kue. Yang lelah, Mas!” “Jadi, Yang lelah. Mas tidak akan bisa berubah. Mungkin di luar sana ada lelaki yang lebih baik untukmu Yang. Dia bisa menjadi seperti apa yang engkau mau. Dia yang akan selalu memperhatikanmu. Sebaiknya kita berpisah Yang!” Deg. Jantungku terasa lebih cepat terpacu. Marah tidak tertahankan. Semudah itu mas Azizul mengucapkan kata perpisahan. “Ok. Kalau itu yang Mas mau. Lagian Yang juga masih muda. Siapkan surat cerai!” Aku menjawab tantangan mas Azizul. Panggilan demi panggilan kami datangi, sidang demi sidang kami lewati, bahkan sidang mediasi tidak bisa memutuskan keinginan kami untuk berpisah. Talak telah terikrakan, akta cerai akhirnya dalam genggaman. Lima tahun pertama gagal kami jalani. Kami resmi berpisah. Hak asuh anak berada di tanganku. Satu minggu, dua minggu berjalan aman. Tanpa gangguan, tanpa beban. Namun tidak dengan putra kecilku, pertanyaan yang sama dilontarkan setiap hari. “Di mana ayah? Ayah kok tidak pernah pulang, Bund?” Pertanyaan yang sulit untuk kujawab. Pertanyaan yang mampu membuatku mulai merasakan kehilangan. Kehilangan sosok bijak, tempat bermanja yang pernah mendampingi kehidupanku. Terlebih kehilangan kebiasaan pagiku. Menyiapkan sarapan pagi, menyeduh kopi, dan obrolan mengawali hari. Aah, jangan tanyakan betapa sakitnya aku. Bahkan sakit itu mulai menghampiri fisikku. Rasa sakit itu tak cukup hanya melandaku, putra kecilku tak luput dari serangan. Kerinduan pada ayahnya membuat dia demam tak berkesudahan. Segera kukeluarkan mobil untuk membawanya ke rumah sakit. “Ayah… Yah… Ayah…” Igauan yang keluar dari mulut kecilnya. Sedangkan di tangan, jarum infus menancap menambah sakitnya. Kupencet nomor teleponnya. “Assalamu’alaikum” kudengar suaranya di seberang. Suara yang kurindukan. “Wa’alaikum salam. Putramu dirawat di rumah sakit Nirmala.” Selang tak berapa lama dia telah datang, namak lebih kurus dan tak terawat. Dengan langkah tergesa dia memasuki ruang perawatan putra kami. Entahlah, kaki ini tak mampu melangkah, aku hanya bisa menatapnya dari balik jendela. Putra kecilku tersenyum, sedangkan dia menangis. Kulihat tangan anak kecil itu mengusap pipi ayahnya, menghilangkan bulir air mata. Dan aku, mengusap pipi dengan kedua tanganku. Aku pun menangis pilu. Bayang-bayang kejadian waktu itu, menari-nari dalam otak. Berpikir keras atas sebuah keputusan yang kuambil di masa lalu. Salahkah aku? Malang, 19 Maret 2015 cc: Eyang Prawiro Toko Asma Nadia, Wiraswesti, Kayla Mubara, Tri Ati, Rizki Fuji, Richie Permana Ardiansyah, Eyang Harianto Sutrisno, Dinu Chan, Vera Yuniar, Muqoddasah, Adin Neferu, Aziz Affan AhaQi, Yuneet Senjakala, Adnando Syafiq, Salmah Lukmana, Diana Dien by Dwi Masrokhah

Related Posts:

Muqoddasah

Betapa Bodohnya Oleh: Ova Laela Muttaqiyah Kupandangi wajah lembut itu, senyum dengan lesung di pipi, rambut tergerai panjang, serta bibir merah muda. Memandanginya yang tengah tertidur di pangkuan, membuat hasratku mulai naik. Ah, dasar lelaki. “Eh, Bang Aziz.” Ia buka mata dan kami beradu pandang, lembut. Desah nafasku di keningnya membuat ia terbangun, “aku ke kamar anak-anak dulu Bang.” Ia segera beranjak pergi menuju tempat yang dimaksud. “Yang?” tanyaku cemberut. Dia memberi isyarat dengan meletakkan jari telunjuk di bibir. “Ssst.” *** Limabelas tahun usia pernikahan kami. Awal menikah ia tak bisa memasak, tak suka mencuci pakaianku karena jijik. Bahkan tak tahu bagaimana caranya melayani suami. Setiap hari hanya pergi ke rumah mertuaku. Entah apa yang ia lakukan. Tak jarang menginap di sana, meninggalkanku sendiri di rumah tanpa sesuap nasi pun. “Yayang, aku tahu kau tak suka padaku. Tapi kita sudah menikah, cobalah untuk menerima sedikit saja.” Aku protes pada suatu hari. “Akan kucoba, tapi tak sudi kuberjanji padamu.” “Baiklah, aku akan bersabar.” Kami menikah bukan karena cinta. Orang tuakulah yang menjodohkan. Awalnya aku dan yayang Ira menolak, tapi kami tahu bahwa ridho-Nya ada di genggaman ridho orang tua. Sebelum menikah, ia pernah kabur meninggalkan rumah. Hingga saat ini, sebagai suami aku tak pernah ingin tahu ke mana dan dengan siapa ia pergi. Cukuplah sebagai masa lalu. Tapi, perlahan semua berubah. Kelahiran buah hati kami membuat yayang Ira banyak belajar. Istriku mulai mencoba memasak, mengerjakan segala urusan rumah dan melayaniku dengan baik. Cinta yang dulu tak pernah ada, perlahan tapi pasti memenuhi matanya kala menatapku. Tatapannya terus menghangat dari waktu ke waktu. Awal kami menikah, rambutnya tergerai tanpa penutup kepala. Tapi sekarang, kerudungnya semakin menyejukkan pandangku. Bacaan Al Quran yang indah, ditambah dengan suara yang merdu, membuatku ingin cepat pulang ke rumah hanya untuk mendengarnya mengaji. Saat ini ia tak hanya seorang istri bagiku. Lebih dari itu, ia adalah bidadari dunia. Bahkan dalam sujud di akhir shalat, kupinta pada Sang Khalik agar menjadikannya bidadari surga. Di bawah rembulan, di atas sajadah dan tubuh berbalut mukena putih, kulihat bulir bening menganak sungai mulai dari mata menghilir ke dagunya. Kudekati yayang Ira. “Ada apa yayangku, cintaku, manisku?” Ia meraih tanganku, lalu mengecupnya. “Aku mencintaimu Bang, maafkan jika raga yang lemah ini banyak membuatmu susah.” Mata kami beradu sejenak. Lalu mendekap tubuhnya, hangat. Dagunya berada di pundakku. Hati berdesir, jantungku berdegup kencang. Tiba-tiba ia melepas pelukan, “Abang jangan norak ah, jantungmu seperti mau lepas.” Kami tertawa. Indah, rasanya aku tak ingin kehilangan waktu-waktu seperti ini. Bagai sepasang kekasih yang baru saja memadu cinta. Kami memuji satu sama lain, menghitung-hitung berapa lama telah hidup bersama. Aku adalah dia, dan dia adalah aku. Duhai masa, izinkan kami tetap bersama. Memadu hati memahat senja. Menggamit cinta hingga masa tua, dan bantu kami meraih surga. *** “Hati-hati di jalan ya, Bang. Semoga pekerjaan hari ini diberi keberkahan.” Pesan yayang Ira sebelum aku berangkat kerja. Kukecup keningnya dengan lembut. Ia tersenyum, manis sekali. Aku adalah seorang direktur kemahasiswaan di sebuah Politeknik. Selama menjabat, ada banyak perombakan untuk memperbaiki karakter mahasiswa. Siang ini, kukumpulkan semua daftar hitam mahasiswa dari tahun 1998 sampai 2014. Semua berkas digunakan untuk membandingkan tingkat penurunan jumlah mahasiswa yang masuk daftar. Kubuka berkas tahun pertama, yaitu tahun 1998. Entah mengapa, rasa penasaran semakin tinggi setelah melihat urutan angka dan nama dalam tabel. Mata membelalak menemukan satu nama yang tak asing bagiku; Ira, dengan kasus tidur bersama seorang lelaki. Kueja ulang nama itu; Ira. Tanganku bergetar, lalu mencari tahu kebenaran nama itu. Benarkah ia yayang Iraku? Benarkah ia melakukan hal tak senonoh itu? Wanita yang kucintai sepenuhnya, tambatan hati tempat mengais rindu. Sebelumnya aku memang tahu bahwa ia lulusan kampus ini. Memang tak ada catatan prestasi tentangnya, tapi juga tak ada rekan kerja yang membahas masa lalunya. Tapi hari ini, aku sendiri yang menemukan masalah itu. Kubertanya perihal yayang Ira kepada staf senior, tetapi lisan mereka seperti terkunci rapat. Kutata hati meski sakit, menahan sesak yang mulai penuhi rongga dada. Ini baru dugaan. Bukankah segalanya bisa saja salah? Akhirnya kuputuskan untuk menghubungi sahabat yayang Ira. Kubuka tas, meraih telepon genggam dan mencari sebuah nama, Risa. “Tumben, ada apa kak Aziz?” Suara di seberang terdengar sumbang bagiku. “Oh, nggak, hmmm ….” Ah, aku masih ragu menanyakannya. “Ada apa kak? Ada yang bisa saya bantu? Katakan saja tak masalah.” “Risa, begini, apa Ira pernah pacaran sebelum menikah? Atau, pernahkah ia punya masalah di kampusnya dulu?” “Masalah apa kak?” “Justru karena aku tak tahu, Risa. Ayo, jujurlah.” Satu, dua, tiga detik. Tak ada jawaban. Kubentak wanita di seberang sana, “Risa!” Kudengar suaranya berat, “iya maaf kak sebelumnya. Tapi aku tak berani.” “Ira pernah tidur dengan seorang lelaki? Siapa dia? Pacarnya? Itukah sebabnya dulu ia tak mau menikah denganku?” “Iya, dulu Ira pacaran selama lima tahun. Kudengar ia akan menikah dengan pacarnya. Tapi ternyata justru dengan kakak. Sebelum menikah, sebagai ekspresi kemarahannya ia pergi menemui pacarnya.” “Terimakasih sudah memberi tahu.” “Sabar kak, yang paling penting sekarang kan Ira sudah berubah.” Wanita itu mencoba menenangkan. Tapi, tetap saja ia tak bisa merasakan sakit hatiku. Beberapa detik kemudian kututup telepon. Seketika aku limbung. Ya Allah … inikah hukuman yang Engkau berikan atas dosa-dosaku? Entahlah. Apa yang bisa dilakukan kalau sudah begini? Betapa bodohnya diriku, tak menanyakan perihal keperawanan kepada calon sebelum menikah. Tak terpikir juga untuk konsultasi tentang hal-hal demikian. Memang benar, sesal hanya mau hinggap di akhir sebuah kisah. Kini, aku memiliki dua pilihan, menceraikannya atau menikah lagi tanpa bercerai. Aku meminta izin pada staf bagian kepegawaian untuk pulang lebih awal. Berkas mahasiswa telah diberikan pada karyawan yang bertugas. Tak ada lagi kata lain dalam pikiran selain dia, yayang Ira. Aku bergegas menuju tempat parkir, menyalakan mobil lalu tancap gas sekencang mungkin. Kepala mulai sakit, nafas semakin memburu, angan menerawang jauh pada masa lalu. Satu jam sudah kulintasi jalanan tanpa arah. Jam di pergelangan tangan menunjukkan pukul 14.30 WIB. Kecepatan mobil awalnya 80 km/jam kuperlambat menjadi 40 km/jam. Sejurus kemudian, tatapanku terhenti pada sebuah bangunan bernuansa hijau. Kubah pada atapnya membuatku ingat pada satu nama, yaitu Allah. Aku tersentak, seperti ada yang menuntun untuk masuk ke dalam masjid itu. Mobil telah kutepikan di sudut kanan depan taman. Sampai di sini, rasa tenang mulai singgah di hati. Belum sepenuhnya, namun dzikir terus terucap. Perlahan mulai menghidupkan jiwa yang mulai hilang. Aku ingat seorang teman menasihati, agar kita meminta pertolongan dengan shalat jika sedang punya masalah. Selesai berwudhu, kumasuki masjid dan memilih tempat di depan mimbar. Shalat taubat mungkin bisa menjadi penawar. Panjang sekali sujud terakhirku, di sana kuberdialog pada Pencipta. “Duhai Pemilik Jiwa, aku telah rapuh. Kau sematkan luka terdalam yang pernah singgah selama hidup. Inikah yang harus kuterima akibat segala dosa? Duhai Allah, sungguh aku menikahinya karena mengharap ridho-Mu. Inikah yang Engkau ridhoi dariku? Inikah rasa yang Kau janjikan dalam buah pernikahanku? Aku lelah dan sungguh, teramat lelah. Tunjukkanlah apa yang terbaik bagiku, keluarga, keturunan, serta masa depanku. Akhirnya ya Allah, tiada tempat kembali selain Engkau Yang Maha Agung.” Bangun dari sujud, ada rasa hangat di mataku. Air mata mengalir di pipi. Hatiku bertambah rapuh, lelah singgah lebih lama dalam dada. Namun, nafas yang memburu mulai terayun menurut keteraturan yang semestinya. Tak lama berselang, kudengar dering telepon genggam. Tertulis nama wanita itu pada panggilan masuk. Berat memang, tapi rasa takut justru menghampiri saat melihat nama yayang Ira. “Ada apa?” Tanyaku ketus. “Kak Aziz, ini aku Risa. Aku di rumah sakit sekarang. Istrimu mengalami kecelakaan.” “Kecelakaan?” Kututup telepon dan bergegas menuju rumah sakit tempat yayang Ira dirawat. UGD adalah tempat dimana yayang Ira menjalani perawatan. Selang infus, tabung oksigen, kain serba putih yang menutupi tubuhnya. Aku tak kuat melihat semua itu. “Risa, apa yang terjadi?” “Ini, tadi aku menceritakan bahwa kau sudah mengetahui masa lalunya. Dia langsung saja pergi ke luar rumah untuk mencarimu. Saat ia berlari, kakinya tersandung batu cukup besar lalu jatuh terduduk di atas trotoar jalan. Mungkin tak kuat menahan sakit ia langsung pingsan dan kembali jatuh, kepalanya membentur trotoar lagi.” *** Tiga hari sudah yayang Ira koma. Dokter mengatakan ada retak di bagian kepalanya. Sehingga terjadi banyak pendarahan. Dokter menambahkan, bahwa bisa saja yayang Ira mengalami kelumpuhan seumur hidup. Kelumpuhan disebabkan retak di tulang kepala yang menimbulkan pendaharan otak. Ya Allah, inikah jawaban-Mu atas doaku tiga hari lalu? Jogja, 18 April 2015 ---------------------------------------------------------------------------------------------- Tantangan KBMA 2015 silakan nikmati dan tinggalkan kritik di kolom komentar Terima kasih telah bersedia singgah :) :) :) by Muqoddasah

Related Posts:

Nur Safarah

Ada Anak Bertanya pada Ibunya -nsy- Malam itu hujan. Di dalam sebuah rumah di pinggir jalan yang bertetanggakan sawah, terlihat seorang anak sedang membuka buku pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam kelas 5 Sekolah Dasar di depan televisi. Belum sampai sepuluh menit si anak membaca isi buku, ia terhenti. Pandangannya fokus pada kisah sinetron yang ada di depan mata. Tak berapa lama kemudian, ibu gadis kecil ini masuk ke ruang keluarga sambil membawa sepiring singkong rebus untuk si anak. "Kenapa berhenti belajar?" tanya sang ibu sambil meletakkan piring kue di samping buku si anak. "Lagi istirahat, Bu," ucap si anak, "Hm ... Bu, orang yang menikah katanya berjodoh. Kok bisa ada orang yang cerai? Apa salah pilih jodoh?" tanyanya tiba-tiba. Sang ibu cukup terkejut dengan pertanyaan si anak. Sambil tersenyum, ibu menjawab, "Jika ada dua orang yang menikah,itu artinya mereka berjodoh. Jika di dalam proses berumah tangga mereka harus berpisah, bukan karena mereka salah memilih jodoh. Tetapi, jodoh mereka sudah berhenti sampai di situ." "Maksudnya, Bu? Berhenti gimana?" sela si anak. "Iya, jodohnya berhenti. Bisa karena perbedaan pendapat yang tak bisa ditolong lagi. Bisa juga karena perbedaan prinsip. Dan untuk menyelamatkan kebaikan agamanya, mereka harus berpisah," ujar sang ibu. "Terus, kalau setelah cerai salah satu dari mereka nikah lagi sama orang lain, jodoh mereka ganti atau gimana, Bu?" tanya si anak dengan penuh rasa ingin tahu. "Iya, Nak. Allah mengganti dengan jodoh yang terbaik untuknya saat ini," ujar si Ibu. "Yang nggak nikah lagi gimana, Bu? Kasian donk." "Enggak gimana-gimana. Menikah lagi itu pilihan, Nak. Bisa saja ia memutuskan untuk tidak menikah lagi karena ia ingin khusyuk beribadah pada Allah. Atau bisa juga ia ingin fokus merawat anak. Dan itu tidak dilarang," jelas si ibu dengan penuh sabar. "Ooo ... gitu ya, Bu? Ya udah deh, aku belajar dulu," tutup si anak. Matanya kembali pada buku pelajaran. Sang ibu melirik sinetron yang tadi ditonton si anak, ia tersenyum lembut seraya memandang buah hatinya. Ia ambil remote televisi dan menekan tombol 'off'. Hujan mereda. Menjadi gerimis yang menemani malam anak dan ibu itu. -END- #itcanbeatruestory^^ Jogja, 19.04.2015 by Nur Safarah

Related Posts:

Boerhan Ibrahim

Tips Menjaga Pandangan. Udin yang selalu merasa gagal untuk menjaga pandangan dari hal-hal yang diharamkan, mendatangi ustadz Aziz. "Assalamualaikum Pak Ustadz. Apakah Ustadz punya resep manjur untuk anak muda yang sulit menjaga pandangan seperti saya?" Ustadz Aziz mengelus dengkulnya, tanda dia sedang berfikir mendalam, kemudian balik bertanya, "Sejauh ini, upaya apa aja yg sudah kamu lakukan, Din?" "Berpuasa, berdoa, dan menikah muda, Tadz. Tapi saya belum juga bisa menghilangkan kebiasaan itu!" "Kamu suka membaca, Din!?" "Suka sekali, Tadz." "Kalo gitu, jangan lupa bawa buku kemanapun kamu pergi!" "Saran Ustadz rada aneh, saya belum dengar resep itu dari yang lain!" "Kalo kamu sibuk baca buku, mana bisa kamu jelalatan liat yang lain! Kalo bukunya gak lagi menarik, tutupin aja ke muka, terus tidur." Trm 19.04.2015 by Boerhan Ibrahim

Related Posts: